Laman

Menanti Senja, Berburu Cahaya Jingga : Mengejar Sunset di Puncak Samarinda

Semburat Jingga saat Akan Terbenam
Selalu menyenangkan melihat langit biru perlahan-lahan berubah warna menjadi jingga, lalu kemudian kelam. Menikmati proses detik-detik sang surya tenggelam di kejauhan, membuat pendaran oranye menggantung di dalam memory. Ya, saya suka sekali dengan semua yang berhubungan dengan Matahari. Saat terbitnya, saat tenggelamnya, saat dia meminjamkan sinarnya kepada rembulan agar dia nampak indah, dan saat dia memberikan kehidupan kepada bumi dengan cahayanya.

Dan, Samarinda, merupakan sebuah kota yang dikelilingi kota. Sunset dan Sunrise hampir tidak mungkin dinikmati kecuali melalui tempat yang tinggi. Dan saya baru dapat satu tempat terbaik untuk menikmati sunset adalah di Bukit Jelawat. Ya, saya bilang bukit, bukan gunung, karena yah, memang tidak pantas jika disebut dengan gunung.

Jadi, Terimakasih kepada mba Ellie Hasan, yang menuntun saya sampai kesini. Trip 31 Maret 2013 kemarin dulu. Dan trip ini pula yang menginspirasi fiksi saya yang >> Hanya Sebatas Perbedaan Perspektif. Kemaren rombongan sampai 8 orang, dan saya merasakan nearly death experience disini. Haha,, biasa, karena pecicilan foto-foto gak liat jalan, hampir aja jatuh gelundung dari puncak bukit. Effortnya dong, wuih, sampai kehabisan nafas. Beberapa kali berhenti cuman buat atur nafas, dan pada saat turun bukit, kaki gemeteran sangking di eksploitasi habis-habisan.

Tapi, semua itu jadi worthed. Setelah melihat keindahan sunsetnya. Yang walaupun saat itu langit sedang berawan, sunsetnya tetap mampu membuat saya bertasbih. Ada tempat seseru ini di Samarinda, pikir saya. Memang, Samarinda itu paling indah jika dinikmati from the top. Jadi ngebayangin seandainya aja pmerintah mau ngebangun bianglala segede yang ada di London. Uuuuw,, pasti deh, pasti Samarinda lebih keren lagi. Lebih baik daripada sekedar Trans Studio yang jadi perdebatan sengit dengan kota tetangga itu.

Ini adalah Sunset 31 Maret 2013
Dan, yang mau saya ceritakan ini adalah pengalaman saya kedua kalinya mendaki gunung itu demi mengejar Sunset bersama si Ganteng. Ya, Si Ganteng harus bisa mengabadikan moment ini, pikir saya. Si Ganteng harus merasakan betapa excitednya saya saat melihat sunset itu. Dan dia harus mengabadikan moment itu dalam bentuk video. Ya, HARUS.

Maka hari itu, Sabtu, 22 Juni 2013, rencana awal saya untuk memenuhi undangan dari Team Flashmob kepada EH Samarinda dalam acara Circus Show, saya batalkan, hanya karena melihat betapa langit hari itu begitu sempurna. Awannya sedikit, dan bergumul seperti permen kapas. Sedangkan awan yang seperti selaput membran tipis itu gak ada sama sekal. Benar-benar langit yang saya harapkan untuk bisa mendapatkan moment fullround-Sun.

Sekitar pukul 16.45 WITA setelah menghadiri kelas AKBER sesi Social Media dan Lingkungan Hidup dengan Kak Cea dan Bang Ade sebagai narasumbernya, saya dan seorang teman yang saya jebak untuk menjadi asisten dan seksi perlengkapan dadakan (baca : tukang angkat-angkat barang), berangkat ke titik awal pendakian.

Titik Awal pendakian berada di lingkarang kuning
Yah, walaupun sebenarnya ini tidak bisa dibilang pendakian, namun jalanan menanjak yang curam, dan jalur yang absurd karena saya sendiri lupa harus lewat mana, menjadi tantangan pendakian sendiri buat saya. Untungnya seminggu belakangan sering lari-lari, jadinya gak terlalu kagok sama pendakian level dasar kaya gini. Tapi, yah bagaimanapun juga, jalurnya lumayan berat. Beberapa kali masih sempet berhenti untuk mengatur nafas.

Sesampainya di puncak, si Matahari lagi sembunyi di balik awan. Hampir kecewa, karena saya pikir mataharinya ga bakal keliatan lagi. Tapi ternyata, masih ada sedikit celah diantara awan dan pegunungan tempat jatuhnya matahari. Sehingga, moment itu adalah pertama kalinya saya melihat Sunset yang bulat penuh. Menarik sekali melihat bulatan itu perlahan-lahan turun dan menghilang di balik pegunungan.

Saat itu mataharinya sudah menghilang di balik awana.
Si Ganteng memang sudah saya pastikan untuk mengabadikan dalam bentuk video. Setelah tripod dan posisi stabil terpasang, dia gak bisa diganggu gugat. Hasil akhir videonya berdurasi sekitar 11 menit. Dan, yang sangat saya sesalkan adalah mode fokus otomatisnya. Beberapa kali dia berubah fokus sendiri. Arghh,, lain kali kalau mengambil video sunset, ga pake otomatis-otomatisan lagi. Kapok dah.

Saya tidak pandai menggambarkan keindahannya dengan kata-kata. Jadi saya abadikan sedikit moment sunsetnya dengan menggunakan SIIryuu. 

Full-Round-Sunset
Si Ganteng Standby Recording Video
Kota Samarinda dengan Cahaya Jingga
Me! :3
Panorama Photo, With : SIIryuu
Hari itu, saya menuruni bukit dengan perasaan sangat puas, dan kaki yang tidak gemetaran lagi. Rasanya tidak menyesal menunda beberapa hal hanya untuk hal ini. Bahkan, beruntungnya saya,, saat berpaling dari sunset tersebut, tepat berhadapan dengan matahari, sang rembulan sedang bersinar secara total, Purnama. 

Lampu Terang itu bernama Purnama.
Mungkin, akan ada pendakian-pendakian berikutnya. Mungkin, selanjutnya akan lebih baik, tapi tetap, pendakian ini akan selalu berarti. Saya akan terus Menanti Senja, dan berburu cahaya jingga. Semoga nanti bukan hanya samarinda, tapi tempat-tempat lain yang tidak kalah eksotisnya dengan Sunset di Puncak Jelawat. :)