Laman

Air Terjun Pinang Seribu Samarinda, Katanya.

Air Terjun Pinang Seribu
Lanjutan dari edisi masih penasaran sama si Ganteng. Entah kenapa ratusan foto di Pantai Tanjung Harapan kemaren kurang memuaskan. Entahlah, ada apa dengan si Ganteng? Apa karena masih belum menerima saya sebagai majikan barunya? Oleh karena itu, saya memastikan untuk segera menjinakkannya. Yup, saatnya Hunting.

Karena kemaren sudah kepantai, kali ini pilihan saya jatuh kepada yang berbau hutan dan tidak terlalu jauh dari domisili tempat saya tinggal. Air Terjun Pinang Seribu yang berada di wilayah Bayur sekitaran Samarinda Utara. Perjalanannya hanya sekitar 15-20 menit dari rumah saya, yang memang udah berada di wilayah Sempaja. Hehe. Bukannya tadi sudah saya bilang, tidak terlalu jauh? :p

Kali ini rombongannya cuma 4 orang. Padahal woro-woronya di Twitter udah rame bener. Tapi, pada akhirnya yang muncul hanya Saya, Oom Timpakul, Bang Tino dan Mba Ellie Hasan. Petualang-petualang ini entah kesambet apa sampai mau-maunya ikutin keinginan absurd saya ke tempat yang katanya ada Air Terjunnya.

Ini Bang Tino, Tampak Gay dimana-mana.
Ini mba Ellie Hasan, pacar si bang Tino
Kami berangkat pukul 15.00 WITA pada tanggal 9 Juni 2013. Kebetulan kena di hari minggu, jadi sekalian liburan gitu. Sebenarnya, janjinya sih, jam 14.00, tapi karena saya ketiduran, dan lelet, akhirnya kembali mengalami pemunduran waktu berangkat. Oke, salahkan tipe darah saya yang berwujud "O".

Kurang dari tiga puluh menit setelahnya, saya dan tim kurang kerjaan ini sampai di venue. Setelah agak sedikit sebal karena jalanannya dialihkan, karena ada semenisasi di dekat perumahan Bengkuring. Kami harus memutar jauh masuk sampai ke dalam Bengkuring Raya II, dan keluar entah dimana. Sebenernya jalanannya sih yang saya keluhkan, bukan jauhnya. :|

Review Dari Saya.

Tempat Wisata ini. Eh, serius. Ini tempat WISATA Samarinda yang resmi loh. Biar gini-gini aja tempatnya, tapi, ya udah dimasukin sama Dinas Pariwisata Kota sebagai tempat wisata.Air Terjun Pinang Seribu ini masuk kedalam kategori wisata alam. Yah, memang sedikit banyak bernuansa alam, namun yah,, menurut saya dibilang tempat wisata itu, agak sedikit berlebihan.

Air Terjun keseluruhan.
Oke, kembali ke inti cerita. Karena ini bukan kali pertama saya berkunjung ke situs ini, saya tidak terlalu merasa excited. Tapi, saya akui, ini kali pertama saya melihat volume debit air yang terjun sebanyak itu. Iya, sebanyak itu. Biasanya, cuman kaya aliran kurus yang mengalir dari bebatuan di atas sana hingga penampungan di bawahnya. Kali ini, cukup layak kalau dikatakan sebagai Air Terjun.

Terhitung dari tahun 2007, saya sudah ke lokasi ini, sekitar 4 kali. Dan baru kali ini saya membayar biaya retribusi yang cukup mencengangkan. Rp 2.000,- untuk parkir motor, dan Rp 10.000,- untuk per kepala yang masuk. Walaupun kali ini saya dibayarin sama bang Tino *uhuk*, saya tetap merasa kaget. What? Sepuluh ribu? Yang bener aja. Itu cuma biaya melihat-lihat saja -dan berenang, sebenarnya. Kalau mau-. Untuk duduk-duduk di pendopo yang ada, harus nambah biaya lagi. WTH! Gak lazim ini mah. Kalau katanya orang banjar tu, terlalu-lalu.

Buat Pacaran Juga oke loh,, :p
Tapi, ya sudahlah. Toh, intinya saya tetep masuk secara gratis. Kemudian, kembali melihat ke sekeliling. Air terjun tersebut setinggi 4-5 meter dengan kemiringan yang tidak curam, mungkin hanya sekitar 45 derajat. Dan seperti tebagi menjadi 2, di tengah-tengahnya ada celah yang lumayan besar, dengan diameter sekitar 2 meter, bisa dipakai untuk berenang. Iya, berenang. Walaupun, saya tetap berfikir, untuk apa nyebur kedalam air se-tidak-bening itu. Tapi yah, kemaren-kemaren waktu kuliah, dan tempat ini belum dikelola oleh pemerintah, saya sempet berenang-renang girang di dalamnya.

Kalau soal excitednya, mungkin sekitaran tahun ajaran baru tahun lalu ya, saya ngerasa girang banget ngeliat tempat ini udah jadi bersih, enak dipake buat piknik, dan ada mini outboundnya. Waktu itu, saya menemani anak-anak murid baru untuk ber outbound-ria. Ada kali, 5 tahunan baru dateng lagi ke situs ini. Makanya kaget banget.

Pada saat saya kesana lagi, untuk kelima kalinya (sebelumnya 2x masa kuliah, 1x sama keluarga, 1x event sekolah), ada perubahan lagi di bagian kolam-kolam bebekannya. Ada tambahan 3 buah jembatan gantung untuk mini outbound. Jelasnya, saya dan Tino yang memang agak-agak ga bisa diam, langsung naik aja ke jembatan itu. Lumayan serem loh, walaupun gak tinggi-tinggi banget. Tapi, justru karena bawahnya air, makanya takut. Ini derita orang yang ga bisa berenang. Dem.

Selain itu, apa lagi ya? Entahlah, yang jelas pengalaman kemaren lumayan seru. Berhasil bikin foto air yang kaya aliran sutra, yang belakangan baru tau nama tekniknya low level. Yang saya ingat ya, saya kesana buat hunting gambar, nyobain/training si ganteng, dan main-main di jembatan gantungnya. Oia, jembatan itu, ada satu yang paling panjang dan melintasi kolam, kemudian berlanjut dengan memanjat jaring-jaring hingga ke tebing dengan tinggu 3 meter dari permukaan, kemudian turun meluncur di dinding vertikal menggunakan satu untai tali. Nice banget. 

Ini yang disebut Low Level, kalau saya menyebutnya Aliran Sutra
Satu lagi deh, ada sebuah kejadian lucu waktu kita kecapean dan duduk-duduk di pondok utama. Silahkan dicari deh, soalnya ada satu patung yang terukir menjadi pilarnya, yang agak extraordinary. Saya dan Mba Ellie sampe ngakak ngeliatnya. Wanna Know? hmmmm,, silahkan datang kesana sendiri deh. :p

Mungkin saya kurang pandai menggambarkan keadaan, tapi saya punya beberapa foto yang setidaknya mewakilkan apa yang saya lihat disana. Enjoy please. :)









Dan yang ini mau pamer tingkah polah waktu hunting dan outbound. Karyanya oom Timpakul nih, hasil nyuri-nyuri dari G-stringnyah. #eh



 




Begitulah, petualangan ini diakhiri dengan senyum. Yah, memaklumi karena Samarinda bagaimanapun tetap Samarinda. Apa yang ada di dalamnya, harus tetap disyukuri, bukan? Ntar kalau ada yang pada mampir kesana, jangan lupa pamerin fotonya ke saya ya? :))

Resume By Frisca
Kelebihan :
  • Merupakan tempat yang cozy banget kalau buat piknik keluarga. Bayangin, makan bareng diiringi suara gemericik air terjun. Uuuwwwhhh..
  • Relatif lebih dekat dibanding Air Terjun Tanah Merah, dan lebih tinggi juga.
  • Banyak pondokan nyaman buat dipake duduk-duduk. Lumayan buat refreshing otak yang penat gegara kerjaan kota.
  • Mini outbounnya lumayan seru buat dimainin. Adu nyali sama temen. Atau buat gangguin temen yang takut ketinggian. Boleh dicoba. *grin*
Kekurangan :
  • Tiket masuk mahal banget. Damn!
  • Kalau udah musim kemarau air yang ngalir kaya air wudhu. irit.
  • Dan kalau airnya udah irit, bakal keliatan seperti batu yang digrujukin air. Bukan Air Terjun.
Saran :
  • Selalu bawa makanan dan minuman sendiri dari rumah. Sama sekali gak ada apa-apa di sana kalau lagi laper. Kecuali, kalian adalah golongan vegetarian yang biasa makan rumput tanpa diolah. Itu bisa.
  • Kalau bisa, usahakan pergi ke sana saat semalam sebelumnya hujan deras. Dipastikan volume air bakalan banyak banget. Dan akan terlihat seperti air terjun sungguhan.
  • Gak capek-capek saya ngomongin ini, jaga kebersihan, jangan nyampah sembarangan. Itu aja sih. :)