Laman

[Fiksi] Hanya Sebatas Perbedaan Perspektif

Sabtu pagi itu, tidak ada yang berubah di Perumahan Batu Alam Permai. Sama seperti pagi-pagi biasanya. Hiruk pikuk orang-orang yang masih bekerja dihari Sabtu. Bunyi klakson khas dari tukang sayur keliling. Celoteh riang anak-anak yang sedang bermain di jalan. Bahkan, gosip-gosip kecil yang selalu terlontar melalui bibir-bibir merah para ibu rumah tangga, ikut memberi warna dalam suasana pagi itu. Ya, warna kehidupan.

Latar belakang suara-suara seperti inilah yang sudah menjadi sangat familiar dikehidupannya selama ini. Ralat, kehidupannya sekitar satu bulan belakangan. Yap, baru satu bulan ini dia akrab dengan suara-suara pagi di lingkungannya. Dan cukup satu bulan dia sudah hapal bahkan merasa hanya suara-suara inilah yang selama ini mengisi hidupnya. Benar, keterbiasaan itu mengerikan. Bahkan, menurut penelitian, hanya dengan diulangi 22 kali saja, suatu hal bisa menjadi sebuah kebiasaan. Apalagi dengan 30?

Jadi, seperti hari-hari biasanya. Pagi itu Putri duduk di atas tempat tidurnya, menghadap Notebook-nya. Wajahnya terlihat suntuk, jelas dia bosan. Terlihat dari jari-jarinya menekan mouse asal-asalan. Beberapa kali dia menghela nafas panjang, cukup membuktikan sudah sepagian ini dia hanya melihat layar notebook-nya, dan tidak ada hal menarik. Bahkan sosial media favoritnya pun tidak mampu mengubah mood-nya.

BORED, DULL, TIRESOME, DRAB.” Gumam Putri sambil mengetik apa yang barusan dia katakan ke Twitter. Jejaring sosial andalannya.

Kemudian, Putri merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit. Ingatannya melayang ke beberapa bulan yang lalu, dimana warna kehidupan paginya tidak semonoton ini. Selalu ada tawa, canda, tekanan dari guru, bahkan rasa gugup dan kemarahan. Padahal baru satu bulan yang lalu dia tertawa bahagia melihat namanya tercantum di papan pengumuman kelulusan SMA. Baru satu bulan yang lalu dia merasa semua masalah beban hidup di pundaknya menghilang. Dia pikir, setelah melewati kelulusan, dia akan terbebas dari segala masalah belajar, hapalan, dan hitungan matematika keparat itu. Dia sama sekali tidak menyangka akan merindukan semua hal-hal yang dulunya membuat dia bosan. 

Pandangan Putri beralih lagi ke buku-buku pelajaran yang dia tumpuk di sudut ruangan. Dia ingat buku-buku itu pernah membuatnya menangis semalaman. Ya, dia bukan makhluk cerdas seperti Riska, atau Ajeng, atau Surya, peringkat tiga besar di kelasnya. Dia juga bukan kutu buku seperti Raka. Matematika membuatnya gatal-gatal, dan hapalan rumus Fisika dapat membuat penyakit Asma-nya kambuh. Namun, entah kenapa, sekarang dia ingin sekali kembali menelusuri kata demi kata yang terangkum disana, di dalam buku-buku itu. 

Membosankan. Memiliki waktu luang itu membosankan. Putri tahu beberapa bulan kedepan, waktu luang yang dia punya ini akan menghilang kembali. Namun, itu masih beberapa bulan lagi. Apa yang harus dilakukannya dengan waktu luang yang dia punya sekarang? Putri yakin dia tidak bisa bertahan beberapa bulan kedepan. Putri ingin sekali pergi keluar kota, namun administrasi sekolahnya yang lambat, membuat dia belum bisa pergi kemanapun saat ini. Dia masih harus mengurus ini, dan itu, dan hal-hal menyebalkan lainnya. 

Selama ini, bukan berarti Putri menghabiskan waktunya hanya mengurung diri di kamar. Tidak. Putri merupakan gadis yang aktif. Dan supel. Sebulan ini dia sudah menghabiskan waktunya bersenang-senang dengan teman-temannya. Ke Café, nonton film di Plasa 21 Samarinda Central Plasa, Berenang, bermain di waterpark, hunting foto, bahkan hingga trekking di Kebun Raya Samarinda. Tapi ya hanya sampai situ. Dua atau tiga kali saja hal itu diulang, sudah pasti membuatnya bosan. Dan, ya, sekarang dia sudah bosan.

“Samarinda, kamu menyedihkan.” Lirih Putri.

Kemudian dia bangkit dan menghadapi notebook-nya lagi. Yup, tab mention-nya mulai menunjukkan bahwa dia memiliki banyak respon atas postingan sebelumnya. Dengan tidak bersemangat dia melihatnya satu persatu, yah, karena dia tau jawaban apapun yang dia dapatkan, pasti sama dengan kemarin. 
@rakarhaka Bored, huh? Frappuchino time? RT @putthecloud: BORED, DULL, TIRESOME, DRAB
 "Yeah, right. Frappuchino untuk ke 13 kalinya? No, Thanks.” Gumam putri sambil menuliskan balasannya untuk Raka. 
@ajenkcute yuk ngemoll, diskon gede-gedean nih katanya RT @putthecloud: BORED, DULL, TIRESOME, DRAB
Putri terdiam sebentar. Kemudian jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard.
@ajenkcute gak deh jeng, udah hapal isi mallnya. Kecuali ada Mall lain yang tiba-tiba muncul dalam semalam.
Putri menekan tombol send, dan bergumam dengan kesal. “Ajeng, kamu gak kreatif. Kemaren dan kemarennya lagi kamu ngajakin ke Mall kan? Dasar maniak belanja.” 
@bobbyboys Lagi bad mood ya? Movies di 21 yuk, aku yang traktir deh. RT @putthecloud: BORED, DULL, TIRESOME, DRAB
Putri menggeleng cepat. Selain karena ini si Bobby, mantannya, Putri sudah tau apa yang akan dia hadapi di Studio XXI nanti. Ya, jelas terpatri di ingatannya, betapa ramai dan tidak terkontrolnya keadaan di sana. Pasti akan ada ratusan orang yang ingin menonton film di hari weekend seperti ini. Walaupun ada 10 theater di dua tempat dan 5 waktu penayangan yang berbeda, yakin saja, tidak akan mampu menghadang semuanya sekaligus. Belum lagi pengunjung berikutnya yang menunggu hingga theater-nya di buka. Putri ngeri membayangkan dia harus ikut duduk lesehan di lantai sementara temannya mengantri karcis film. Pemandangan seperti itu pernah dihadapinya minggu lalu. Waktu itu pemutaran perdana film yang lumayan terkenal dan saat itu sedang long weekend. Sedih melihat banyak orang yang sampai harus duduk lesehan didekat dinding sambil menunggu. Seakan di dahinya tertulis, menyuratkan mereka tidak punya pilihan. Hanya inilah yang mereka bisa lakukan di hari libur, hanya inilah hiburan yang bisa mereka dapatkan.

Putri memutuskan tidak akan menjawab mention Bobby. Dan langsung skip ke mention-mention selanjutnya. Dia mengetikkan jawaban dengan cepat.
@ramatama udah cobain Café baru di Gor Segiri? RT @putthecloud: BORED, DULL, TIRESOME, DRAB
“Yup, Sudah. Yang pake konsep Itali itu, kan?
@laras13 Kesiannya si Puput,, #pukpuk RT @putthecloud: BORED, DULL, TIRESOME, DRAB
“Haha.”
 @buayadarat: @putthecloud udah, kita hunting foto aja yuk di Islamic Centre. ;)
“Bang, udah 5 kali loh Putri foto-foto di situ, inget?”
@seasonintheSUN lagi bosen put? di ajakin Yani Karokean nih,,,  RT @putthecloud: BORED, DULL, TIRESOME, DRAB
“Nyanyi lagi? Kemaren lusa kan kita sudah karokean, Sur.” 
@BimaSakti: Hehe,, itu artinya apa put?
“Bim, kamu udah bisa twitteran kan? Masa ga bisa buka Google Translate!!!”

Putri menyentak notebook-nya dengan kesal. Sekarang Mood-nya tambah berantakan. Sesaat dia ingin memaki para petinggi di Kota Samarinda. Kenapa fasilitas hiburan di kota ini sangat minim? Game simulasi City Ville-nya di Facebook saja harus membangun banyak sekali tempat hiburan agar para penduduknya mempunyai tingkat mood yang baik. Dan sekarang, Putri sebagai penduduk Kota Samarinda sedang memiliki tingkat mood yang tidak baik karena Samarinda sendiri tidak memiliki fasilitas hiburan yang cukup.

Sebenarnya jika ditinjau ulang, mungkin bukan hanya sistem fasilitas hiburannya yang tidak memuaskan. Bagaimana dengan persoalan lainnya. Birokrasi misalnya? Mengapa Putri harus menunggu lama hingga Ijasahnya keluar? Padahal Sekolahnya merupakan salah satu sekolah ternama di Samarinda. Tapi, tetap saja, harus menunggu lebih dari satu bulan hanya untuk menunggunya keluar. Belum lagi masalah pembangunan. Banjir, Macet dan Debu. Daerah tambang di dekat pusat kota. Wah, bagaimana mungkin itu terjadi di Ibu Kota Provinsi? 

Samarinda, selalu menjadi bahan pergunjingan. Bahkan Putri pernah sekali beradu pendapat dengan penduduk dari Kota Sebelah di Twitter, hanya karena masalah-masalah kecil. Dan Putri jelas kalah karena memang benar, sepertinya kota sebelah jauh lebih maju, bersih dan tertata dibandingkan Samarinda. Putri akhirnya mem-block akun orang itu karena tidak ingin bersitegang secara lanjut.

Memang, Putri hanyalah seorang gadis biasa yang tidak terlalu peduli dengan masalah-masalah seperti itu. Namun, kalau sudah mulai berfikir seperti ini, dia tidak bisa menghentikannya. Tidak bisa menghentikan pertanyaan-pertanyaan sinis yang masuk diotaknya, dan meminta jawaban. Putri sedih, karena Kota Samarinda ini bagaimanapun adalah yang paling dicintainya. Ya, rasa cinta pada tanah kelahiran sendiri itu bukanlah hal bohong. Dan Putri tidak mau menjadi munafik hanya karena tanah kelahirannya tidak begitu membanggakan seperti kota-kota tetangga. Putri sedih, karena dia sendiri tidak bisa menjadikan Kota ini menjadi lebih baik, karena Putri sadar, Putri hanyalah gadis kecil ditengah Kota Besar. Sehingga dia lebih memilih menjadi bagian mayoritas, menjadi bagian yang cuek dan yang mengeluh.

Putri terhenyak dari lamunannya karena gadget-nya berbunyi. Notifikasi aplikasi Whatsapp kali ini yang membawa Putri kembali ke dunia nyata. Tertulis dilayar gadget notifikasi dari “Kak Fajar”.
Bosen Put? Bosen kenapa?
Putri tersenyum. Kakak kelasnya yang sudah lulus dua tahun sebelum Putri lulus, dan sekarang sedang melanjutkan kuliah di Universitas Mulawarman jurusan Kehutanan ini merupakan kakak kelas terbaiknya. Dia orang yang cerdas dan selalu memberikan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan jahil Putri. Kak Fajar juga orang yang sangat baik lagi perhatian. Selalu menyenangkan jika menghabiskan waktu dengannya. Putri selalu mendapat tambahan wawasan baru.
Dengan bersemangat Putri membalas Chat dari Kak Fajar.
Conversation with Kak Fajar:

Iya kak, Putri bosen. Habis lulusan kemaren, kehabisan hiburan. Padahal waktu luang banyak banget.

Kehabisan Hiburan? Emang udah ngapain aja?

Udah macem-macem kak. Nonton di Plasa 21, Karokean, Waterpark, Trekking di KRS, Hunting Foto, Shopping di Mall, bahkan Ngafe. Bosen. Samarinda ini payah. Gak ada hal menarik lagi.

Hehe, yakin gak ada hal lain yang menarik?

Yakin kak,, Putri sih udah kehabisan ide. Emang kakak punya?

Hmmmm,, berarti sore lagi punya waktu luang?

Punya lah kak, lagi gak ada kerjaan soalnya. Kenapa?? Mau ngajak Putri kemana?

Ke tempat yang menarik,,

Kemana dulu? Nanti Putri bosen.

Ga bakal bosen. Dijamin.

Yakin?

Yup. ;)

Oke, jam berapa?

Jam setengah 5 kakak jemput dirumah.

Okesiap. Awas kalau bohong. Kerjain PR Putri sebulan loh.

Iya, gampang. :D jangan lupa bawa Tumbler buat bekal minum ya?

Iyah~
Setengah penasaran Putri mengakhiri chat-nya dengan Kak Fajar. Kak Fajar memang tahu benar Putri suka kejutan. Putri tersenyum dan kembali fokus ke notebook-nya. Kali ini dia membuka file film Korea yang sudah lama dia telantarkan. Lumayan buat nunggu sampai jam setengah 5, pikirnya.

***

Kak Fajar memang berbeda dari kebanyakan orang yang Putri kenal. Kak Fajar adalah orang yang paling tepat waktu yang pernah dia tau. Sehingga tepat pukul 16.30 WITA, deru motornya sudah terdengar di teras rumah Putri. Segera Putri pamit pada Ibunya, dan menghampiri Kak Fajar yang dengan manis menanti di depan pintu.

Sepanjang perjalanan, Putri tidak banyak bertanya. Dia tidak ingin merusak kejutannya. Dibiarkannya Kak Fajar mengendarai sepeda motornya menuju tempat tujuan. Diam-diam dia menebak-nebak kemana dia akan dibawa. Namun, tak satupun jawaban terlintas. Ah, sudahlah, pada akhirnya toh dia akan sampai dan tau kejutannya
.
Sampai disebuah gang di Jl. Biawan, motor Kak Fajar dihentikan. Putri masih belum paham. Di mana kejutannya. Ini hanya sebuah gang biasa di sekitaran Samarinda. Apa spesialnya?

“Sudah nyampe nih kak?” Putri bertanya.

Kak Fajar hanya tersenyum dan menggeleng. Memperbaiki letak parkir motornya. Kemudian menunjuk ke arah belakang Putri. “Kejutannya ada disana.” Katanya

Putri mengikuti arah jari Kak Fajar dan mengernyit sejadi-jadinya. Itukan… Gunung Jelawat?

“Ngedaki gunung, kak? Serius?”

Kak Fajar hanya menjawabnya dengan ekspresi “Mau ikut atau nggak?” Dengan tanda Tanya besar, Putri akhirnya mengikuti kemana arah langkah Kak Fajar. Jadi, kejutannya adalah hiking di gunung, ralat, di Bukit Jelawat. Putri hanya bisa nyengir pasrah karena sudah dibawa sejauh ini. Berfikir-fikir lagi kebelakang, pantesan tadi disuruh bawa bekal air minum.

Putri tahu Kak Fajar memang selalu senang dengan segala sesuatu yang berbau alam. Gunung, Sungai, Laut, bahkan Hutan. Jadi Putri tidak kaget saat tahu Kak Fajar hapal jalan ini. Dulu Putri pernah diajak trekking jalur hutan di Kebun Raya Unmul Samarinda. Dan, jalur yang dilalui benar-benar hutan. Harus menebas semak-semak yang tinggi untuk melangkah kedepan. Ribet tapi menyenangkan. Makanya, saat ini pun, Putri percaya sepenuhnya sama Kak Fajar. Di atas bukit nanti pasti ada hal menarik yang bisa mengusir rasa bosannya. 

Mendaki bukit yang tingginya kurang lebih 50 meter dengan kemiringan hampir 60o, bukan berarti melewati jejeran pohon dan semak belukar. Hebatnya Samarinda ini, disepanjang sungai hingga ke bukit-bukit tinggi seperti inipun penuh jajaran rumah-rumah penduduk. Jalan setapaknya pun bahkan sudah dibuat sedemikian rupa hingga gampang untuk dilewati, dipatenkan dengan tangga kayu atau semen. Mudah untuk dilalui, namun, tetap saja membuat nafas tercekat. Beberapa kali Putri minta istirahat sama Kak Fajar, yang dengan tenang mengiyakannya.

“Santai aja Put, puncaknya gak akan lari kok. Disitu-situ aja.” Katanya.

Setelah hampir setengah jam mendaki dengan susah payah, Putri akhirnya tiba di puncak. Namun, cengiran dan harapan di wajahnya hilang, saat dia hanya melihat hamparan kosong ladang singkong milik penduduk setempat. Dimana kejutannya? Dimana spesialnya? Putri menelengkan kepalanya kesamping, sambil berfikir keras mencoba berfikir positif. Namun, rasa kecewa sudah mulai merayap diam-diam memenuhi dadanya. Buat apa dia bersusah payah hanya untuk kebun singkong?

“Mukanya gitu amat. Kecewa?” Kak Fajar mendekati Putri dengan cengiran usilnya.

Putri hanya mendengus pelan. Tanda dia sudah mulai tidak bisa berfikir positif. “Kebun singkong? Ini menarik ya buat Kak Fajar?” Putri mengguman kecil.

Kak Fajar tertawa. “Bukan, bukan kebun singkongnya, tapi…” Kata Kak Fajar sembari membalikkan badan Putri menghadap jalur naik mereka tadi. “… itu.” Lanjutnya.

Saat Putri berbalik. Diapun terkesima. Rumah-rumah yang tadi dia lewati, sekarang tampak seperti kotak-kotak miniatur yang sering berada dalam etalase kaca. Dari atas bukit itu, hampir seluruh pemandangan kota Samarinda terlihat. Hotel Aston terlihat tinggi menjulang, kontras dibanding rumah-rumah kecil disekitarnya. Kilauan dari liukan sungai mahakam yang diperkecil hingga beberapa kali terlihat hingga menghilang dibalik daratan samarinda seberang dikejauhan. Bangunan setengah lingkaran yang familiar, pesona utama kota Samarinda, Islamic Center terlihat mencolok, kecil, namun mempesona. Ratusan jajaran perumahan yang menghiasi daratan Samarinda terlihat jelas. Lajur-lajur panjang jalan raya dan titik-titik hitam yang bergerak diatasnya, menambah mewah pemandangan itu. 

Namun, yang paling membuat Putri terpana adalah, cahaya jingga dari kejauhan. Betapa ini adalah tempat yang sangat tepat untuk melihat matahari tenggelam. Ternyata Kak Fajar ingat Putri paling suka melihat Sunrise ataupun Sunset. Kilau cahaya kemerahan yang menerpa Kota Samarinda itu, benar-benar indah jika dilihat dari atas. Ditambah bias-bias cahaya yang merasuk ke dalam awan, bercampur dengan wana kelabunya, menimbulkan sebuah efek luar biasa. Putri kehabisan kata-kata. Dia hanya tidak menyangka, ada tempat seperti ini di Kotanya yang membosankan. Samarinda.

Kak Fajar menyenggol kecil bahu Putri. Membangunkan Putri dari kekagumannya. Putri hanya melirik malu ke Kak Fajar sambil tersenyum.

“Indah ya?” Kak Fajar berkata sambil terus menatap sang Mentari yang terus bergulir turun.

“Indah? Ini luar biasa!!” Putri tertawa-tawa senang.

“Tadi kelihatannya kamu kecewa.” Sindir kak Fajar.

Putri hanya mencibir. Tidak menanggapi. Dia fokus untuk memperkuat ingatan tentang sore yang indah itu dalam ingatannya.

“Kamu tahu, Put? Samarinda itu tidak hanya melulu soal keburukannya. Debunya, banjirnya, kebakarannya, dan kejelekan lainnya. Sama seperti kamu memandang bukit ini dari bawah tadi. Tinggi, sulit dicapai, melelahkan, menghabiskan nafas, dan hal-hal merepotkan lainnya. Apalagi, saat kamu mencapai puncaknya, kamu hanya melihat jajaran tanaman singkong. Pasti dalam hatimu, kekecewaan melanda. Sudah capek-capek jalan kemari, eh, begitu nyampe yang dilihat malah daun singkong. Dimana bagusnya?” Kak Fajar mulai berbicara.

Putri menoleh menatap kak Fajar. Dalam hati dia membenarkan apa yang dikatakannya. Bahwa dirinya memandang Samarinda seperti itu. Mengecewakan.

“Namun, sebenarnya, saat kamu mau mengambil sedikit usaha untuk berbalik dari apa yang sudah tertanam di otakmu. Mungkin di sana kamu bisa menemukan kelebihannya. Sunset ini misalnya. Jika kamu tidak melepaskan pikiran burukmu, kamu tidak akan bisa menemukannya. Sekarang lihat, kamu sampai speechless akan keindahannya, bukan? Samarinda juga pasti seperti itu. Saat kamu berhasil menyingkirkan semua hal-hal negatif darinya, mungkin kamu akan menemukan perasaan bangga sudah menjadi bagian dari Samarinda.” Lanjut kak Fajar.

Putri tersenyum mengerti. Benar kan? Lagi-lagi Kak Fajar mengajarinya sesuatu. Kali ini sesuatu yang sangat berharga.

“Jadi, ini hanya sebatas perbedaan perspektif ya kak? Dan, Putri lah, yang disini berperan sebagai warga Samarinda, yang mempunyai kesempatan memilih untuk melihatnya dari sudut yang mana.” Kata Putri.

Kak Fajar kemudian mengacak-ngacak rambut Putri. “Yap, pintar! Jadi, tuan Putri sudah tidak bosan?” Candanya.

Putri tertawa geli, “Ah, seharusnya kakak bukan nyuruh aku bawa tumbler. Tapi kamera kak, kamera!”  

Kak Fajar ikut tertawa. Dan Putri meyakinkan dirinya. Bahwa pasti masih ada harapan untuk Samarinda. Kelak, entah kapan. Mungkin, saat semua warga dan pemerintahannya menyaksikan sunset dari bukit ini? Entahlah, apapun itu, mungkin saja terjadi. Selama mengambil dari perspektif yang benar, bisa saja. :) (/fritz)

Based on, my journey to the top of Bukit Jelawat 31032013. And this is the sunset. It is really Fascinating. :)
Ini sebenarnya "After the Set", tapi warnanya paling bagus. :p