Laman

Media Trip Garuda Indonesia (Part II) : Day 2, Keistimewaan Aerofood ACS

Terbangun agak lebih cepat dari biasanya. Karena biasanya jam tubuh sudah di set sekitar pukul setengah enam mata ini sudah terang benderang. Namun, di Tangerang, karena perbedaan waktunya, saya terbangun pukul 05.30 WIB. Langit masih gelap, dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Sehingga kembali tidur lagi. :D

Saya satu kamar dengan mbak Fransina, dari Tribun Kaltim Balikpapan. Dan memutuskan untuk makan pagi di room saja. Satu, karena males keluar. Dua, karena diberi pilihan. Seandainya tidak diberi pilihan, kami berdua pasti makan di restaurant bersama yang lain *oke, abaikan*. Ngomong-ngomong soal makanan, hari ini saya dan teman-teman Media Trip GA Facilities lainnya akan mengunjungi tempat dibuatnya hotmeal kami di kabin pesawat. Yap, kami akan mengunjungi Dapur Aerofood ACS dan melihat proses pembuatan hotmal tersebut. Mulai persiapan bahan hingga packaging untuk dimasukkan ke dalam pesawat.

Pukul 09.00 setelah packing dan check out, kami mulai berangkat menuju kantor Aerofood ACS. Kembali mengarungi bahtera macet di Tangerang. Kembali berdesak-desakan dengan pengguna jalan lain. Namun, itu tidak lama, karena ternyata lokasi kantor Aerofood ACS tidak terlalu jauh dari Hotel kami semalam.

Gedung Aerofood ACS
Sesampainya disana, kami disambut oleh bapak Marsiman selaku Training Leader dari Aerofood ACS menjadi guide yang akan membimbing kami mengunjungi dan menguak rahasia kesuksesan Aerofood ACS ini. Namun, sayangnya pak Marsiman tidak mengijinkan kami untuk membawa alat dokumentasi gambar. Baik itu Foto maupun Video. Karena takut kerahasiaan yang terjaga akan dipublish besar-besaran, dan kemudian ditiru oleh perusahaan catering for flight yang lain. Pada intinya saya mengerti, namun kemudian mau tidak mau dahi ini berkerut juga, mengingat daya ingat saya yang payah. Tapi, sudahlah. Pasti inget kok, iya inget!

Disambut oleh Pak Marsiman
Sebelum diajak berkeliling, kami semua diwajibkan untuk menggunakan jas putih sekali pakai yang bentuknya seperti seragam Lab saya jaman kuliah namun dari bahan yang lebih ramah lingkungan untuk sebuah barang sekali pakai. Kemudian, rambut kami juga harus ditutup dengan semacam topi untuk melindungi rambut serta masker. Yap, ini adalah standar prosedur untuk bisa berkeliling dengan santai di Aerofood ACS. Karena kepala saya udah ditutupin pake jilbab, saya tidak harus menggunakan shower cap itu walau gak pengen mandi. :D Setelah semuanya siap, kami pun siap pula berkeliling. Yeay!

Awalnya, kami menyambangi ruang penyimpanan bahan makanan. Baik yang masih harus diolah maupun yang sudah siap digunakan. Ruang penyimpanan dan sortir barang memiliki jadwal-jadwal sendiri yang terpisah. Agar bahan makanan tidak tercampur. Saya mengerti sekali, bahwa pengorganisasian ini amat sangat rumit dan riskan sekali. Karena jika ada salah sedikit, bisa banyak sekali kerugian yang dihasilkan. Sebut saja bahan makanan yang busuk dan lain-lain. Untung saja, Aerofood ACS melakukannya dengan baik dan terorganisir rapi, dengan karyawan-karyawan yang terlatih pula.

Bayangkan saja, betapa memang harus penuh dengan ketelitian. Aerofood ACS harus menyediakan 50.000 pack makanan dalam sehari. Dan jika pada peak season bisa mencapai 110.000 pack. Membayangkannya saja sudah ngeri. Tapi, itulah Aerofood ACS. Perusahaan yang pernah mendapatkan penghargaan sebagai penyedia catering untuk penerbangan terbaik di Singapura.

Ini nasi kuning ikan cakalang dari MDC-BPN :D
Ini Rendang Sapi dari BPN-CGK :D
Setelah berkeliling di tempat penyimpanan bahan makanan kering, yang lebih mirip Hypermart, sangking banyaknya jenis-jenis bahan makanan yang ada di sana. Kami juga ditunjukkan sebuah ruangan yang berisi bumbu-bumbu instan racikan Aerofood sendiri. Jadi, semua rasa dan kualitas makanan yang dihasilkan sudah memiliki standar sendiri. Tidak akan pernah kurang. Kemudian kami juga masuk ke dalam freezer raksasa yang digunakan sebagai tempat penyimpanan daging-dagingan. Suhu yang dipatok adalah -18 derajat hingga -30 derajat agar daging tetap berada dalam kondisi terbaiknya. Saat kami masuk ke dalam sana, temperatur menunjukkan angka -22 derajat celcius. Dalam hati saya membatin, mungkin begini rasanya berada di puncak Mahameru ya? Hanya saja, lebih lama dan lebih lelah. Haha.

Setelah selesai mengitari storage room, kami menuju dapur tempat pengerjaan makanan. Ya, di sini kami diperlihatkan ruangan-ruangan yang disekat dengan kaca. Dan masing-masing ruangan dibeda-bedakan sesuai dengan kegunaannya. Ada Hot Kitchen, yang isinya kompor-kompor panas. Cold Kitchen yang gak ada kompornya biasanya digunakan untuk membuat hiasan, burger atau salad. Ada Bakery and Pastry Kitchen untuk membuat makanan pencuci mulut. Ada juga tempat pemotongan daging. Bahkan, ada dapur khusus makanan Korea dan Jepang. Sayang ya gak boleh masuk trus icip-icip. *nyengir*

Wawancara finishing dengan pak Marsiman
Jadi, ternyata Jepang memang merupakan partner Aerofood ACS yang paling eksklusif. Karena mereka yang mengeluarkan uang paling banyak untuk jasa Catering ini. Selain itu mereka tidak mengenakan denda pada Aerofood saat menemukan "benda asing" di dalam makanan mereka. Biasanya, maskapai lain akan mengenakan denda sebesar 2 juta rupiah.. saya ulangi, 2 JUTA RUPIAH, untuk satu item yang ditemukan di dalam makanan Aerofood ACS. Benda asing tersebut bisa berupa apa saja. Isi staples, paku, rambut, batu, pecahan kaca, dan bahkan kecoa. Hal ini bagaimanapun tidak dapat dihindari, karena human error itu pasti ada. Sebaik apapun standar prosedurnya, pasti ada saja yang tersilap.

Kemudian, setelah puas memandangi cheff-cheff itu bekerja dalam aquarium, iya, bagi saya terlihat seperti aquarium, hehe. Kami melanjutkan perjalanan menuju ruang berisi alat-alat makan dari berbagai maskapai penerbangan yang menggunakan jasa Aerofood. Sebut saja Thai Airways, China Airlines, Emirates, Yamen Philippine Airlines, Singapore Airlines, Qantas, Japan Airlines dan maskapai lainnya. Karena konsumen eksklusif, Japan Airlines mempunyai sebuah ruangan sendiri yang jauh lebih besar dibanding tempat yang digunakan oleh maskapai lain. Saya meneliti satu-persatu barang yang ada disana. Bagaimanapun harus saya akui, Jepang adalah negara yang amat saklek masalah makanan. Karena bagi mereka, makanan dan tata cara penyajian itu penting. Pantas saja mereka berani membayar lebih mahal untuk in-flight meal mereka. Dan yang lebih utama, mereka memilih Aerofood ACS untuk memenuhi kebutuhan itu. Keren.
 
Oleh-oleh dari Aerofood ACS
Tour lapangan kami berakhir di ruang penyimpanan dari Japan Airlines ini. Sebuah pengalaman barupun tertoreh lekat dalam ingatan. Pantas saja Garuda Indonesia menjadi maskapai terbaik di Indonesia, karena dibaliknya banyak hal-hal besar yang menyokongnya. Aerofood ACS ini termasuk salah satunya. Sekarang sudah tidak perlu heran lagi, kenapa nama Garuda Indonesia bisa menjadi begitu besar. Karena hal-hal luar biasa, biasanya didukung oleh hal luar biasa lainnya. Bersyukur sekali bisa diberi kesempatan untuk melihatnya secara langsung.

Beginilah rupa kami saat melakukan Tour :D | Photo By : Fransina