Halaman

"Kita Adalah Semangat, Kita Adalah Dekat." Satu Tahun Kepergian Sahabat Kami, Amirullah.



Kita Adalah Semangat, Kita Adalah Dekat.
"Fris, ada nomer telepon mas Dede kah?"

Sore itu, Nyot menghubungi saya dengan nada misterius. Karena seperti biasa, phonebook saya memang agak kacau, sehingga banyak sekali nomer teman-teman yang tidak tersimpan.

"Gak ada Nyot, Pin BB-nya aja nih, kenapa?"

"Gak papa Fris. Tadi bapak nelpon, katanya kapal temen-temen yang Mattek hari ini belum kembali dan gak bisa dihubungi. Ini aku mau berangkat ke Bontang. Tapi, jangan sebar dulu kabarnya ini, biar gak jadi panik".

Oke, bapak yang dimaksud pasti Bapak kami semua di Bontang. Pak Fadli yang sudah saya anggap sebagai bapak sendiri itu tidak mungkin sampai menghubungi kami yang di Samarinda jika bukan sesuatu yang urgent. Namun, karena saat itu saya fikir kapal mereka mungkin mengalami trouble atau apa, yang jelas saya yakin mereka semua tidak benar-benar hilang.

Namun, ketika kedua kalinya Nyot kembali menelepon, dan menjelaskan bahwa kabar terbarunya adalah Mas Amir yang belum muncul-muncul dari laut sejak jam 13.00 WITA tadi, jantung saya mulai berdebar tidak karuan. Di dalam kepala saya beratus fikiran buruk mulai berkecamuk, dan tidak tersangkal beberapa titik air mata mulai berjatuhan.

Mas Amir itu Orang Baik.

Teringat pertama kali kami bertemu. Senyum santun dari pria yang tidak banyak omong ini selalu terkembang ketika kami bersama-sama berpetualang ke Segajah. Hari itu, rombongan kecil berisi Saya, Bapak Fadli, Nyot, Mas Agus, Daniel, Mas Amir dan Mas Heru mencoba menjajal kedalaman tambak yang berkisar 10-15 meter. Hari itu juga pertama kalinya saya mendatangi Gusung Segajah yang ramai dibicarakan.

Beliau, mas Amirullah itu, *saya bersikeras memanggilnya Mas meskipun dia bersuku Bugis* merupakan pribadi yang kalem. Mungkin karena saat itu baru pertama kali bertemu. Terkadang saya tertawa sendiri jika mengingatnya. Kami yang saat itu muda dan nakal, merasa songong karena memiliki ilmu tentang Freedive, sedikit sombong di depan Mas Amir. Namun, saat kami menyelam bersama-sama, barulah kami tersadar Mas Amir ini tingkatannya sudah sangat jauh diatas kami yang masih hijau. Kami hanya bisa terdiam saat menghitung waktu beliau berkeliaran di dalam air. Saat itu beliau juga membawa speargun-nya. Mungkin hampir 2 menit beliau menyelam, tanpa kesusahan. Padahal rekor saya saat itu paling lama 30 detik di dalam air. :D

Perjalanan Pertama bersama Mas Amir. Foto : Istimewa.
Dari pertama kali bertemu pun saya bisa menyimpulkan bahwa beliau orang yang selalu merendah. Tidak pernah sedikitpun beliau sombong akan kemampuannya. Ketika beliau berhasil menarik seekor Lobster yang lumayan besar, kami girang bukan main. Mulailah kami cerewet bertanya-tanya ini dan itu. Ladang ilmu baru nih, pikir kami. Namun, dipuji bagaimana pun beliau selalu mengelak, beliau merasa juga masih harus banyak belajar. Darinya, saya melihat ilmu padi yang sebenarnya. Semakin berisi, semakin merunduk. Padahal Hantu Laut sudah menjadi julukannya.

Kemudian, perjalanan-perjalanan kami selanjutnya membuat saya mengerti. Iya, beliau juga orang yang sangat usil. Di dalam air berapa kali kami semua habis dikerjain. Masker Nyot pernah dilepas di kedalaman 4 meter yang membuat Nyot kelabakan. Seringkali saat di air, beliau menarik-narik fins saya. Setelah sama-sama muncul di permukaan, dia pasti nyengir-nyengir konyol. Membuat kami tidak pernah bisa marah.

Yang begini ini bikin gak bisa lupa. :) Foto : Istimewa.
Teringat juga saat kami melakukan perjalanan ke Pulau Miang. Kala itu kapal kami mogok dan harus ditarik oleh kapal yang satunya. Saya menetap di kapal yang mogok itu. Beliau saja yang menemani saya ngobrol di tengah hujan badai yang saat itu terjadi. Keramahan hatinya dan santun perkataannya tidak bisa tergantikan oleh siapapun. Belum lagi saya sering "terpaksa" makan sepiring dengannya karena beliau memang menyukai keramaian. Dan hal-hal seperti itu yang membuat saya susah lupa dengan senyumannya.

Amirullah di Mata Teman-Temannya

Sempat bertanya kepada beberapa teman yang mengenal mas Amir, yang kebetulan bisa saya tanya secara pribadi. Dan ini jawaban mereka.

Foto : Istimewa.
"Teman, Sahabat, Kakak, dan Guru. Seorang pengajar yang baik serta telaten. Rendah hati dan susah sombong." 
- Nyot, Samarinda.

"Amir adalah orang yang baik. Sopan sekaligus santun. Sayang dengan keluarga. Suka ngebully juga. Bagi saya dia seperti saudara, bahkan saudara saya pun tidak sedekat Amir." 
- Wandy, Bontang.
Such a sweet memory with him. Foto : Istimewa.
"Saya kenal Ami di pertengahan 2007. Awalnya bisa dekat karena saya sering ke Barrang Lompo setiap minggunya untuk belajar menembak dan berlatih scuba diving. Kak Ami itu punya perawakan yang atletis, dan ada ketegasan dari setiap kata yang diucapkan. Senyumannya berkarisma, dia tau betul bagaimana membangun hubungan pertemanan dengan cita rasa kekeluargaan. Saya sering diajak ikut job menyelam sama dia. Dan dia juga punya bakat dalam seni." 
- Mirwan 'Ciber', Entahlah Dimana.

"Pribadi yang menyenangkan, friendly, dimana saja dia bisa diterima di semua kalangan, sangat pemberani namun selalu rendah diri, sangat taat beribadah dan menghormati orang tuanya. Dia senang sekali menganalisa sesuatu, serta orang yang perfeksionis dalam mengerjakan sesuatu." 
- Alessandro Reich, Rumah Kapal.

Merayakan 17 Agustus di Laut a la Spearo. :) Foto : Istimewa.
Ketika saya ajukan pertanyaan seperti ini, tidak sedikit yang mulai cerita panjang lebar tentang mas Amir. Bahkan, kebanyakan diliputi rasa emosional yang tinggi. Iya, kami semua sepertinya rindu akan sosoknya. Sosok Mas Amir yang baik hati, tidak sombong dan sering usil. :')

Amirullah dan Spearfishing

Foto : Istimewa.
Mas Amir belajar spearfishing sejak masih SMP. Bahkan yang lucu, sering bolos sekolah di hari sabtu, karena beliau tau ada satu mahasiswa UNHAS yang datang untuk spearfishing di pulaunya, Barrang Lompo. Sekitar satu tahun dulu lamanya dia hanya ikut berenang di belakang penembak, sambil memegang ikan hasil tembakan. Tiap disuruh nyoba pakai tembak, selalu malu-malu dan bilang, "Ngga usah, saya pegangin ikan aja." 

Tapi setelah kenal dengan speargun, cepat sekali Mas Amir belajar menjadi spearo yang hebat. Itu didukung dengan rumahnya yang tepat di depan laut, jadi setiap pulang sekolah dia selalu latihan menembak ikan. Baru setelah tamat SMA sering ikut kapal pencari ikan milik Oomnya, illegal fishing, bom dan bius (racun potasium sinaida). Mas Amir berperan sebagai penyelam kompresor. Dari situ dia benar-benar tahu dan mengerti bagaimana dampak negatifnya dari bom dan bius. 

Menjadi penyelam kompresoritulah yang membuat dia jadi penyelam yang sangat pemberani, tidak takut apapun di laut, yang membuat dia sering terjebak pada kecerobohan. Mas Amir pernah merasakan kakinya hampir lumpuh karena penyelaman yang tidak aman.

Foto : Istimewa.
Namun, satu sifat bagus dari Mas Amir adalah ketika diberi nasehat, dia pasti memikirkan dan menganalisanya dengan baik. Setelah melihat dengan teliti apa untung dan ruginya, dia memutuskan untuk berhenti melakukan penyelaman dengan kompresor. 

"Mentornya dia itu ya kakakku Rudi Reich. Dia segan sekali sama Rudi. Apapun yang dibilang pasti dituruti." Imbuh Kapten Sandro Reich ketika bercerita via text tentang mas Amir.

Mungkin ini juga adalah titik baliknya seorang Amirullah, yang sampai saat akhir hidupnya dikenal sebagai Spearo. Atau mungkin kepindahannya ke kota Bontang yang membuatnya jauh dari kegiatan berbahaya tersebut, entahlah. Yang jelas, ketika saya bertemu dengannya beliau adalah seorang suami dari wanita yang solehah serta ayah dari dua bocah lucu yang fasih sekali dengan kegiatan spearfishing. 

Pencarian Mas Amirullah

Masa-masa pencarian Mas Amir. Foto : Istimewa.
 Teringat kembali setahun yang lalu ketika masa-masa pencarian Mas Amir. Pencarian berlangsung selama 4 hari. Banyak kerabat yang ikut andil dalam pencariannya. Dimulai dari tim sar, temen-temen di Samarinda, bahkan hingga teman-teman sepermainan Mas Amir yang jauh-jauh datang dari Makassar hanya untuk mencari keberadaannya. Adik dan kakaknya ikut turun ke laut, setiap hari dengan harapan-harapan yang baik, terus menelusuri laut Bontang.

Saya sendiri tidak bisa ikut, karena sesuatu dan lain hal. Waktu itu sedang sakit sehingga tidak diperbolehkan keluar kota. Rasanya lebih sulit. Karena hanya bisa cemas menunggu kabar terbaru. Handphone selalu stand by, mata selalu terpasang ke jejaring sosial. Sungguh waktu-waktu yg tidak menyenangkan. Karena menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dan berusaha ikhlas itu sungguh berat. Bagaimana mungkin, mas Amir yang sering mengajarkan kami semua teknik pernapasan dan cara menyelam yang benar malah harus hilang di laut. Ironis bukan?

Foto : Istimewa.
Hari ke-2 ketika Reich bersaudara datang dan ikut menyelam pencarian menemukan satu petunjuk baru. Andi, Rudy, Sandro dan Ciber turun tangan dalam pencarian tersebut dan berhasil menemukan  Speargun mas Amir di dasar laut kedalaman 40 meter. Dengan keadaan shaft terlepas dari tempatnya dan karet tidak dalam keadaan terpasang. Namun, petunjuk mengenai keberadaan Mas Amir sendiri bias. Tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Bahkan tidak ada pergolakan apapun, karang dan lamun di tiang rig tetap berjajar rapi. Hari itu kembali pulang dengan tangan kosong.

Speargun yang ditemukan di dasar laut. Foto : Istimewa.
Tetapi setidaknya dugaan bahwa mas Amir terjerat tali di dalam air bisa dihilangkan dari kemungkinan. Akhirnya tim pencari memutuskan untuk menyisiri bagian-bagian dekat darat. Dari deretan mangrove di Kadindingan sampai ke pulau-pulau kecil di wilayah Bontang, semua ditelusuri. Hanya saja, masih belum mendapatkan hasil apa-apa.

Sampai akhirnya hari ke-4 pencarian berlangsung. Tim mendapatkan laporan dari nelayan yang menemukan sosok mas Amir. Saya pribadi melihat perkembangan ini dari media sosial hanya bisa bersyukur dan mencoba legowo. Setidaknya mas Amir kembali, walau bukan dalam keadaan yang kami harapkan. Tuntas sudah perjalanannya. Dari tanah kembali ke tanah, mencari makan di laut dan akhirnya pergi dari laut. Saya yang belum setahun saja mengenalnya bisa begitu kehilangan, apalagi saudara serta sahabatnya yang seperti saudara.

Tapi, sekali lagi, siapa yang tahu rahasia Tuhan? Toh ujung-ujungnya kita akan ikut pulang juga. Semua hanya masalah waktu. Mas Amir memilih pulang melewati apa yang paling dicintainya. Laut.

Satu Tahun Berlalu...

Percaya atau tidak, ada masa-masa hampa yang kami lewati setelah kepergian mas Amir. Saya sendiri pernah menjadi begitu enggan pergi ke laut atau melakukan kegiatan yang berhubungan dengan penyelaman. Saya dan teman-teman lain saat itu baru on fire banget soal freediving, merasa semangat kami ikut dibawa pergi. Terkadang merutuk kepada laut, seperti merasa dikhianati oleh sesuatu yang sangat dicintai. Dan itu benar-benar menyebalkan.

Namun, pada akhirnya, yang namanya manusia ikan, seperti apapun menganggap laut itu jahat, akan tetap kembali rindu pada aroma garam dan lembabnya udara di Laut. Kami pun kembali. Seperti anak bayi yang baru saja mengenal sesuatu. Kami mulai pelan-pelan ikut dalam kegiatan laut lagi. Ada trauma yang harus kami hilangkan, meskipun tidak parah. Nyot misalnya, selalu terbayang ada sosok yang ikut berenang dibelakangnya ketika dia berada di dalam air. Ingatan tentang mas Amir begitu melekat hingga mampu menimbulkan imajinasi. Atau mungkin, itu hanya perbuatan alam bawah sadar sebab kami merindukannya.

Sekarang, ada banyak hal-hal baik yang harus kami, saya khususnya, syukuri sepeninggalan Mas Amir. Kami menemukan keluarga-keluarga baru. Bertemu sahabat-sahabat baru. Pulau Barrang Lompo yang selalu menyambut dengan hangat kedatangan kami disana. Nyot dan saya sudah merasakannya. Betapa Kak Ima dan Kak Ulla menyambut kami seperti menyambut kedatangan adiknya sendiri. Belum lagi bertemu dengan teman-teman spearfishing yang lain. Reich bersaudara yang sama aja sifatnya seperti Mas Amir. Penuh keterbukaan dan rasa persaudaraan yang tinggi.

Silaturahmi ke Rumah Masa Kecil Mas Amir, Pulau Barrang Lompo. Foto : Istimewa.
Pada akhirnya, janji-janji mulai terucap. Tentang kami yang ingin bersilaturahmi, baik itu ke Bontang atau Makassar atau Barrang Lompo. Mungkin, ini yang ditinggalkan Mas Amir kepada kami semua. Meskipun kami pasti tidak pernah melupakannya, tali persaudaraan ini juga dihadiahkannya kepada kami.

Sesuai dengan slogan andalannya,
"Kita adalah Semangat, Kita adalah Dekat."

Meskipun kini, kami dan mas Amir terpisah oleh dimensi, kami yakin kami tetap dekat. Sedekat kenangan yang mengalir ketika melihat laut lepas. Sedekat ilmu yang selalu berusaha diterapkan dalam kegiatan di dalam air. Sedekat kerabat yang tidak mempunyai pertalian darah. Karena kita adalah semangat, kita adalah dekat. Selamanya akan menjadi sahabat. :)

Awal mula perjalanan baru, dengan Mas Amir menghiasi sudut hati kami masing-masing. Foto : Istimewa.
Semoga semangat ini juga dimiliki oleh rekan-rekan spearo paling dekat kami. Untuk kita semua, tetap utamakan safety dalam kegiatan tembak menembak. Kami tidak ingin mengalami perasaan yang sama kehilangan seseorang yang kami sayangi, di tempat yang kami sayangi, lagi. Tetap menyelam dengan aman, jangan memaksakan diri, jangan tersulut kata-kata provokatif hingga berusaha melewati batas, dan jangan pernah menyelam sendiri. Itu saja.

Sekian. :)



Note : Terimakasih untuk teman-teman yang membantu saya menyelesaikan tulisan ini. Maaf kalau jadi terlalu sentimental, mungkin juga saya rindu. Mari mengingat kenangan yang baik, dan jangan lupa Al-Fatihah untuk kesayangan kita, Mas Amir. :)