Laman

Incredible Kepulauan Balabalagan (Part I) : On My Way to "Almost" Paradise

Semenjak perjalanan saya ke Biduk-Biduk kemarin, entah kenapa di dalam benak saya yang terpatri hanya laut, laut dan laut. Yang bahkan, awalnya pun menempatkan Balabalagan -yang saat itu saya taunya untuk kesana butuh waktu dan biaya yang tidak sedikit- berada di tempat yang "Saat ada kesempatan, pasti didatangin" menjadi "Prioritas Utama". Betapa tidak? Racun dan cerita dari orang-orang yang pernah menjejakkan kaki disana, tidak pernah ada yang kecewa. Berarti, laut itu sangat layak didatangi bukan?

Kepulauan Balabalagan merupakan sebuah gugusan pulau yang terletak di Selat Makasar. Kepulauan ini masuk dalam Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, walaupun sebenarnya jaraknya lebih dekat dengan Kalimantan Timur. Kepulauan ini terdiri dari 12 pulau dan banyak Gusung yang belum teridentifikasi dengan pasti banyaknya. Pulau-pulau ini dikelilingi oleh air laut sebening kaca dengan intensitas garam yang tidak terlalu pekat -jika saya bandingkan dengan intensitas garam di Pulau Beras Basah-. Keindahan kepulauan ini masih belum banyak orang, padahal landscape pulau dan underwaternya tidak kalah dengan Derawan yang menjadi Ikon Kaltim.

Setelah melalui niat yang kuat untuk menuju kesana, saya mencoba menanyakan info mengenai bagaimana bisa untuk mencapai tempat itu. Seorang kawan yang saya anggap sebagai narasumber menawarkan dengan baik hati untuk memberikan bantuannya. Saya tinggal datang, duduk, dan menikmati perjalanan, sedangkan dia yang mengurusi semuanya. Baik itu masalah transportasi, makan dan penginapan. Wah, tentunya menjadi tawaran menarik sendiri untuk saya, dan teman-teman saya yang lain yang udah mupeng kesana.

Kemudian, melalui saat-saat ribet pengumpulan massa yang ikut, akhirnya tepat 2 hari sebelum waktu yang ditentukan untuk berangkat, 22 orang terkumpul untuk mengikuti perjalanan ini. Dimana 17 diantaranya adalah gugusan lama Samarinda Backpacker, dan 5 orang lainnya adalah pendatang baru di Samarinda Backpacker. 22 orang ini nantinya akan dibagi menjadi dua kelompok, karena harus menggunakan 2 kapal yang berbeda. Waktu keberangkatannya adalah Sabtu, 29 Maret 2014 sampai dengan Senin, 31 Maret 2014. Meeting Poin sendiri adalah di Tanah Grogot Kabupaten Paser. Kami akan menuju Desa Lori dan kemudian menyebrang menggunakan kapal selama 4-5 jam perjalanan. Sebenarnya, selain melalui Desa Lori, ada alternatif penyebrangan lain. Yaitu melalui pelabuhan di Balikpapan, dengan lama perjalanan di atas kapal sekitar 9-10 jam. Namun, karena saya sudah malas mencari informasi lagi dari Balikpapan, saya serahkan kepada Kak Firman, kawan saya di Tana Grogot untuk mengurusi semuanya.

Saya cukup mengernyitkan kening, saat mengetahui dan melalui perjalanan yang sangat panjang menuju Tana Grogot. Bayangkan, dari Samarinda, rombongan pertama kami berangkat pukul 15.15 WITA, dan sampai di Tana Grogot pukul 02.00 dini hari. 11 jam perjalanan mennn.... Namun, karena kemaren memang agak padat kendaraan yang menuju balikpapan, sehingga pukul 19.00 kami baru sampai di Ferry penyebrangan Kariangau. Sekitar pukul 21.00 sampai di Penajam, istirahat dan makan malam, kemudian melanjutkan perjalanan ke Grogot. Dan baru tiba di tempat menginap sekitar jam 2.00 dini hari. Wah... Karena jam 08.00 pagi esoknya harus sudah siap menuju Desa Lori, kami segera memejamkan mata untuk istirahat.

Hari Pertama, 29 Maret 2014. Pulau Saboyang.

Terbangun untuk segera bersiap-siap berangkat ke Desa Lori. Pukul 06.00 kami membangunkan semua yang masih terpulas dalam dunia mimpi untuk segera bersiap-siap. Seperti biasa, karena kami pikir akan langsung mampir ke pulau dan nyebur, kami memutuskan untuk gak pake mandi. :D Yap, dengan tumbennya kami semua mampu ngumpul di rumah Kak Firman untuk bersama menuju Desa Lori di waktu yang dijanjikan, lebih 5 menit. Prestasi baru ini namanya.. Namun, karena ada kendala miss-communication, transportasi awal yang seharusnya semua naik Taksi Call, akhirnya ada dua mobil yang juga ikut berangkat ke Desa Lori. 

Perjalanan ke Desa Lori memakan waktu 1 jam 30 menit. Sesampainya disana, kami mulai mengatur barang bawaan. Kak Firman dan Mpo Norma yang menyiapkan semuanya bersibuk-sibuk sendiri, sedangkan saya sibuk memandangi Dermaga yang epik itu. Dermaga yang kehilangan satu atau dua tiang penyangganya, sehingga mereng ke kiri. Membuat hati dag dig dug saat menginjaknya untuk memasuki kapal. Tapi, langit hari itu sungguh benar-benar bersahabat. Menjadikan hari itu adalah hari yang tepat untuk berlayar. 

Say Hello to Lori Village's Dock. >.<
Ada dua kapal tertambat di sana yang nantinya akan menemani kami menyusuri Kepulauan Balabalagan selama 3 hari 2 malam. Kapal pun sudah dibagi penumpangnya menurut berat badan. #ups. Saya dapat jatah berada di kapal 1, bersama banyak orang lainnya. Yaitu Mpo Norma, Mbak Ellie Hassan, Mas Dony, Mas Aldo, Mas Agus Okta, Mas Adi, Pak Fadli dan Istrinya, Kak Firman, Lumi, Rahma, Desy dan Yusmi. Sementara di kapal 2, ada Mba Maya, Mba Rini, Mba Ina, Dyah, Wina, Bang Kenzi, Faridz, Mas Andre, Ishom, Helmi, Mas Abi, Kak Rusdy dan Daniel. Kami berlayar sekitar pukul 09.00 dan langsung menuju ke Selat Makasar. Berangkat dulu kita, Capt!

Preparation Before Sailing~
Dan, gak ketinggalan narsisnya :D
Sayangnya, setiap perjalanan pasti punya cerita dan kendalanya masing-masing. Dan perjalanan ini dari awal sudah dikasih kendala bertubi-tubi. Kapal 1 yang saya tumpangi berjalan sangat lambat. Sehingga ketinggalan jauh oleh kapal 2. Sekitar 30 menit lepas dari Dermaga Desa Lori, kapal kami berhenti sekitar 20 menit untuk memperbaiki baling-baling kapal supaya bisa lebih laju. Namun, sayangnya tetap saja ketinggalan 20 menit dari kapal 2 itu tidak bisa dikejar lagi. Akhirnya kami berjalan sendiri mengarungi selat Makasar yang sepertinya tanpa ujung.

Kapal 2 melaju melewati Kapal 1 |
Photo By : Pak Fadli
Saya menikmati pertama kali saya berlayar menggunakan kapal lebih dari 1 jam perjalanan. Ya, dalam kondisi sok-sokan survival, prediksi kira-kira saya mabuk atau tidak itu yang menyemangati saya berada di kapal saat itu. Satu jam pertama, goyangan-goyangan itu tidak mempengaruhi saya. Saya malah justru menikmati pergantian warna air laut yang kontras dengan langit. Awalnya berwarna cokelat, kemudian memudar menjadi hijau lumut, lalu hijau toska, dan kemudian biru dalam. Wah, teringat kata-kata oom Timpakul saat di Manado kemarin, kenapa laut di Kalimantan dengan laut di Sulawesi warnanya berbeda. Dia bilang karena laut di sekitar kalimantan termasuk landai, sedangkan di Sulawesi sana lautnya langsung laut dalam.

3 hingga 4 jam perjalanan selanjutnya, saya mulai lost interest dengan warna air. 3 orang sekaligus sudah tepar di dalam kapal, entah berapa kali mereka mengeluarkan isi perutnya. Saya hanya bisa menghabiskan waktu dengan tidur. Namun, memang perjalanan laut saat itu terlalu lama. Sehingga saat bangun tidur saya kecewa, masih laut lagi, laut lagi, kapan nyampenya? :D

Kemudian di jam ke-5, saya terbangun dan pak Fadli menunjukkan sesuatu di kejauhan kepada saya. Saya melihat beberapa pucuk pohon mengapung di garis horizon, ya, kepulauan itu sudah terlihat. Semakin kesana, semakin besar kumpulan pohon tersebut dan membentuk siluet pulau. Saya semakin senang dong, karena berarti, perjalanan dengan menggunakan kapal ini akan berakhir. Saya udah mati gaya loh 5 jam di dalam kapal gak ngapa-ngapain. 

Akhirnya, sembari mencari angin, saya dan mbak Elli naik ke atas kapal. Bersama Mas Dony, Mas Aldo dan Mas Agus, kami semua terkatung-katung berusaha mengimbangi goyangan kapalnya. Haha.. sungguh perjuangan yang luar biasa, belum lagi arus laut yang lagi beriak seru, kami semakin terhempas kekiri dan kekanan. Tapi seru! Melihat ikan yang berloncatan di depan sana, melihat gugusan awan yang merintangi sinar matahari, semuanya benar-benar menyenangkan.

Kapal oleng kapteeeeen~~~ | Photo By : Pak Fadli
Lalu tidak berapa lama kemudian sebuah sosok ikan besar melompat dan mengikuti perahu kami. Itu Lumba-lumba! Walau masih anakan, tapi dia lompat sambil mengikuti kapal kami. Saya dan Mba Elli langsung saja teriak-teriak kesenangan. Mungkin juga karena keributan yang kami perbuat, lumba-lumba itu tidak terlalu lama memperlihatkan dirinya. Pak Fadli sepertinya berhasil mendapatkan fotonya. Ahh... saya suka sekali perjalanan ini. Falling in love from the very first time!

That is the Dolphin! | Photo By : Pak Fadli
Tapi, ternyata pulau-pulau ini cukup PHP juga *pemberi harapan palsu, maksudnya*. Kelihatannya dekat, ternyata untuk mencapainya membutuhkan waktu yang lama. Belum lagi ternyata kami salah fokus pulau. Ternyata pulau yang udah kelihatan di depan mata itu bukanlah pulau tujuan kami. Kata bapak Supa, supir kapalnya, pulau kami masih yang dibelakangnya lagi. Ouch. Dan saya sih skeptis, waktu itu sudah menunjukkan pukul 15.30 sore, jadi pasti planning untuk berkeliling sebelum mencapai saboyang tidak terlaksana. Yah, gak bisa disalahkan sih, selain terpisah dengan kapal 2, kondisi laut yang lagi kurang ramah membuat perjalanan ini menjadi lebih lama daripada seharusnya. Tapi, saat itu pikiran saya adalah, "sudahlah, ayok merapat dulu ke pulau, merapat dulu, baru fikirkan hal lainnya".

Sekitar pukul 16.15 WITA, kami akhirnya merapat ke dermaga pulau Saboyang. Disana sudah banyak penduduk dan anak-anak yang merapat ke dermaga setelah melihat kapal kami datang. Saya sendiri perhatiannya sudah terlalih ke lautnya. Ya, warna biru pekatnya memudar, menandakan laut tersebut mulai landai. Beberapa bayangan kehitaman terlihat sekilas. Berarti disana ada karangnya. Ah, saya harus nyebur sepertinya.

Pak Fadli menggawangi kapal merapat ke Dermaga
That is a very long Dock. Hello Saboyang!
Saat kapal benar-benar merapat, yang ada dalam pikiran saya hanyalah, "ayok frisca.. letakkan semua barangmu, ambil fin mu, ganti baju, langsung nyebur kita.. nyebuur!!!". Dan benar saja, saat selesai naroh semua-semuanya, saya langsung kembali ke dermaga untuk menunggu kapal 2 datang, dan ngeberesin barang-barang saya yang di kapal 2, kemudian terjun dari dermaga. Begitu rencananya.

Touchdown Saboyang, Baby!
Mba Ellie Hasan dan View Pulau
Dari kejauhan, saya melihat kapal 2 mulai merapat. Dalam hati saya sempat berfikir kenapa bisa baru nyampe ya? Mungkin mereka sudah muter-muter pulau duluan sehingga baru sampe di Saboyang setelah kami selesai beres-beres. Betapa senangnya mereka. Tapi, ternyata saat dikonfirmasi, mereka juga baru bisa merapat ke pulau yang benar. Sebelumnya mereka tersesat, sang kapten kapal ternyata tidak tau arah ke pulau Saboyang, dan tertinggal jauh oleh kami, GPS nya pun berada di kapal kami. Astagfirullah, untung saja ada Bang Kenzi dengan gadget-nya mampu menemukan kepulauan Balabalagan ini. Sepertinya mereka mampir kebeberapa pulau dulu sampai bisa menemukan kami. Dan, parahnya lagi rupanya mereka tidak tau bahwa ada jatah makan siang di dalam kapal mereka, sampai-sampai mereka kelaparan. :(

Akhirnya, setelah saya tunjukkan bahwa di kapal ada makan siang mereka, para personel dari kapal 2 makan begitu saja di dermaga dan ditemani oleh banyak penduduk kampung Pulau Saboyang. Saya juga ikut makan bersama mereka, karena memang gak ada nafsu sama sekali makan di kapal. Hehe.. selesai makan, maka itu saatnya buat snorkeling, Yeah~~~

Mas Aldo terlihat bahagia sekali~
Karena saya baru selesai makan, saya tidak serta merta masuk ke dalam laut begitu saja. Ada tahapan-tahapan untuk stretching terlebih dahulu untuk menghindari keram di dalam air. Setelah peregangan sekenanya dan menunggu lima menit agar makanan tidak menghambat gerak saya, saya pun terjun ke laut. Akhirnya... perjalanan 6,5 jam terbalaskan juga. Merasakan kenikmatan sentuhan air diseluruh permukaan kulit ini menyenangkan. Belum lagi kadar garam airnya tidak terlalu pekat. Betah rasanya berada disana.

Snorkeling Time | Photo By : Pak Fadli
... and even freedive ! | Photo By : Pak Fadli
Ditemani sekawanan anak"pulau Saboyang |
Photo By : Ina Effendi
Karang di Pulau Saboyang tergolong lumayan. Mirip-mirip yang ada di Beras Basah. Di sini saya banyak menemukan terumbu karang yang melebar seperti payung. Kemudian ikan-ikan yang berwarna warni berseliweran di depan saya. Gak bisa dijelasin dengan kata-kata pokoknya. Serasa mengintip kehidupan alam lain. Indah banget. Kemudian dibawa ke arah yang lebih dalam lagi, disana semakin banyak terlihat terumbu karangnya. Dan lebih banyak lagi macamnya. Sayang karena kedalaman airnya sekitar 5 meter lebih, saya tidak bisa menikmati secara maksimal. Mencoba meluncur kedalam pun sia-sia. Badannya udah terangkat lagi. Diketawain aja sama Pak Fadli yang berada di sana untuk mengabadikan keindahan lautnya.

Clown Fish! | Photo By : Pak Fadli
Sedikit gambaran Coral Reef Pulau Saboyang |
Photo By : Pak Fadli
Setelah puas berenang-renang dengan ikan, selain karena memang sudah mulai gelap, saya dan teman-teman lain mulai merapat ke dermaga. Sunset kala itu benar-benar pecah... warna orange-nya kuat banget. Sayang saya tidak membawa kamera saya ke dermaga, sehingga tidak dapat mendokumentasikannya. Tapi beberapa teman sepertinya mengabadikannya. :)

The Shimmering Red Sunset | Photo By : Ina Effendi
Kembali ke tempat menginap, untuk bebersih dan mengganti baju yang lebih santai. Sampai disana, ternyata air di dalam kamar mandinya mati. Sehingga kami semua, gak cewek, gak cowok pada mandi di sumur. Hehehe.. seru banget sih kalau menurut saya. Mandi di sumur barengan, sambil tertawa-tawa ceria dan curi-curi air yang ditimba. Akhirnya misi Samarinda Backpacker untuk mandi bareng pun terlaksana juga. :D

Sudah selesai mandi, sudah bersih cantik dan wangi, sembari menunggu makan malam yang disiapkan oleh mpo Norma dan Kak Firman, yang merasa bertanggung jawab harus menggantikan ibu pemilik rumah yang lagi sakit buat masak. Saya tidur-tiduran di ruang tamu, dan tidak membantu. Hehe, maaf ya Mpo, tenaga udah habis buat excited dan snorkeling di dermaga tadi. :p

Setelah makan malam, saya kembali tidur-tiduran kecil sampai akhirnya Mas Agus dan Mas Abi membangunkan saya, mengajak ke dermaga, untuk melihat dan mendokumentasikan langit malam itu. Bersama Mbak Elli, kami mempersiapkan semuanya. Ya, saya memang sudah amat sangat berniat tidur di dermaga untuk menikmati Balabalagan to the fullest! Sampai ke malam-malamnya. :D Dengan Sleeping Bag, beberapa tolak angin, kamera dan tripod, saya siap begadang untuk menunggu Serbuk Galaksi itu muncul.

Di dermaga, ternyata sudah banyak teman-teman lain yang mengambil posisi disana. Kenyataannya bukan cuma saya yang ingin melihat hamparan langit maha sempurna dengan ribuan bintang yang bertaburan dengan indah. Mereka hanya mengambil posisi di dekat pulau, namun saya, Mba Elli, Mas Agus, Mas Dony, Mas Aldo, dan Helmi mencoba ke tengah dermaga. Disana ada sebuah tempat yang cukup luas untuk kami semua. Kemudian mengatur posisi Sleeping Bag, kami tidur berdempetan karena memang angin malam itu cukup deras.

Waktu saat itu mungkin menunjukkan pukul 21.00, kami semua sudah siap di tempat masing-masing. Masuk kedalam sleeping bag, karena gak kuat dinginnya. Temen-temen lain yang pengen mendokumentasikan bintang akhirnya ikut ke tempat kami. Seru juga belajar gimana caranya memotret bintang. Walaupun teorinya saya hapal, kenyataannya tidak selalu benar seperti itu. Saya masih menyimpan kamera saya dengan rapi, menurut saya langit malam itu masih terlalu banyak ditutupi oleh awan tipis. Benar saja, beberapa yang berhasil mengambil masih di dominasi dengan warna merah. Akhirnya saya putuskan, mungkin tengah malam nanti akan lebih baik.

Setelah bercanda sedikit dengan yang lain, seingat saya disana ada Mas Andre, Mas Adi, Faridz, dan yang lain. Karena gelap saya tidak terlalu melihat mereka. Kami saling mengagumi betapa langit malam itu sempurna. Ya, pesona bintang-bintang itu tidak terhalangi oleh cahaya lampu kota. Sehingga apa yang terlihat jauh lebih banyak dari yang biasanya saya lihat dari Samarinda. Bahkan, gemerlap dari serbuk galaksi yang saya cari telihat dengan jelas. Menghampar melintang horizontal dengan luas. Subhanallah... belum lagi kilauan-kilauan sekelebat dari bintang jatuh yang banyak. Memang, pesona keindahan langit malam itu tidak ada duanya.

Sekitar pukul 22.30, Mas Andre dan yang lain memutuskan untuk kembali ke rumah singgah. Sementara saya sudah menarik sleeping bag saya sampai ke kepala, sudah siap untuk tidur. Dan -dengan bodohnya- lupa sama sekali untuk mengambil gambar. -.- Mungkin juga, karena kelelahan perjalanan panjang dan aktifitas seharian ini. Entahlah... yang jelas saya merasa nyaman berada di dalam sleeping bag saya, tidur bareng temen-temen seperjuangan dibawah atap bertabur bintang.

Dengan ucapan "Good Night semua.." dari Mas Andre dan teman-teman yang pulang ke rumah singgah, saya menutup malam itu. Dengan senyum. Yap, it feels like "almost" paradise.