Halaman

Media Trip Garuda Indonesia : Goes To Manado. *Indahnya Jadi Blogger*

Rombongan Media Trip Garuda
Manado. Sebuah kota indah di wilayah Sulawesi Utara. Saat tercantum nama ini di dalam E-Mail yang saya terima pagi itu, hanya terlintas satu kata, Bunaken. Ya, Bunaken akhirnya menjadi destinasi final dari Media Trip yang digawangi oleh Garuda Indonesia ini. Bunaken, salah satu hadiah terbesar buat saya yang sangat mencintai laut dan isinya. Dan Bunaken, adalah salah satu Taman Laut Nasional yang ketenarannya sudah diketahui hingga tingkat Internasional.

Jadi begini. Saya sebagai Blogger Samarinda, mendapatkan kesempatan besar untuk mengikuti Media Trip Garuda Indonesia bersama Bang Ade Fadli. Trip ini disponsori secara total oleh Garuda Indonesia. Dalam arti kata untuk saya adalah GRATIS. Wah, ini sebuah kebahagiaan sendiri untuk saya. Bayangkan saja,  hanya dengan modal nulis-nulis di Blog, saya mendapatkan kesempatan ke Bunaken, Gratis pula. Gimana bisa gak bahagia? :D Tujuan perjalanan ini sendiri adalah mempromosikan Manado kepada khalayak media supaya potensi pariwisata ini tetap banyak peminatnya.

Official Sponsor
Hari Pertama, 14 Maret 2014
Perjalanan dimulai pada hari Jum'at tanggal 14 Maret 2014. Pukul 15.00 WITA saya dan Bang Ade sudah berada di Bandara Internasional Sepinggan. Eh, atau saya harus segera terbiasa menyebutnya Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan, sebab tepat hari ini Bandara tersebut diresmikan menambah namanya. :D Kemudian bertemu dengan rombongan lainnya sekitar pukul 16.00 WITA. Disana saya baru melihat dan berkenalan dengan 13 peserta lainnya. Dan rata-rata merupakan orang media massa, hanya saya dan Bang Ade yang berasal dari Blogger. Diantara ke 13 orang ini, hanya 3 orang wanitanya, sisanya adalah pria-pria tampan. 

Sekitar pukul 17.00 WITA, kami semua mulai check in, dan briefing kecil di Garuda Indonesia Executive Lounge yang nyaman. Disitu ditentukan sekitar 3 orang yang akan mengambil gambar pesawatnya terlebih dahulu untuk kepentingan dokumentasi. Dan akan ada 2 orang khusus mengambil gambar di kokpit pesawat saat pesawat berada di udara.

Menjelang senja bersama Garuda Indonesia
 Kemudian tepat pukul 17.50 WITA yang merupakan jadwal waktu penerbangan kami, kami semua take off dari Bandara Sepinggan. Kami menggunakan pesawat CRJ1000 Bombardier yang mempunyai kapasitas 84 untuk kelas ekonomi, dan 12 untuk kelas bisnis. Fasilitas yang disediakan adalah hot meal. Sehingga saat Landing di Manado, perut kami tidak terlalu berisik. Ada sebuah moment yang menakjubkan menurut saya. Pemandangan Kota Manado dari ketinggian di malam hari sangatlah indah. Begitu terang dan kontras dengan kegelapan malam. Seakan memandang jajaran bintang yang bersinar terang. Berbeda dengan Kalimantan. Di saat ini pun saya sudah merasa, oh iya.. saya sebentar lagi menapak di pulau Sulawesi.

Oke, sekitar pukul 19.10 kami Touchdown di Manado. Sayang hari sudah gelap sehingga saya tidak bisa mendapatkan view landscape dari Bandara Sam Ratulangi. Setelah mengurusi bagasi dan lain-lainnya, kami bertemu dengan team Garuda Manado. Kami disambut dengan sangat baik dan ramah. Bahkan dalam hati sempat terlintas pikiran bahwa apa yang orang-orang katakan itu benar. Wanita-wanita Manado itu cantik-cantik. ;D

Kemudian, kami melanjutkan perjalanan. Rombongan dipisah menjadi 3 mobil. Dan tujuan kami selanjutnya adalah ikon dari kota Manado sendiri. Yaitu Patung Yesus Yang Memiberkati. Patung ini merupakan patung Yesus terbesar ketiga di dunia. Ketinggian dari permukaan tanahnya 50 meter. Tinggi patungnya sendiri 30 meter dan tinggi penopangnya 20 meter. Kami singgah sebentar di tempat yang paling pas untuk menikmati keindahannya dan keindahan kota Manado dari ketinggian. Selepas mengambil gambar sejenak, dan foto bersama, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat makan malam.

Monumen Yesus yang Memberkati
Garuda telah menyiapkan makan malam untuk kami di Wahaha Sea Food and Chinese Food Restaurant. Kami dijamu dengan makanan-makanan yang luar biasa menyegarkan mata, dan perut juga pastinya. Menu dari makanannya ada bermacam. Dan yang paling khas Manado adalah Woku. Woku adalah olahan ikan Kakap atau Kerapu yang direbus dengan berbagai macam bumbu. Rasanya asam dan pedas, karena Manado memang terkenal dengan kegemarannya akan rasa pedas. Woku ini sangat segar disajikan dengan nasi panas. Kami juga menyempatkan diri menyambangi Pohon kasih yang berada di dekat rumah makan tersebut. Pohon kasih ini akan mempunyai ornamen yang berbeda saat idul fitri maupun natal.


Sajian Makan Malam :D

Dengan Latar Belakang Pohon Kasih
Setelah makan malam dan ngobrol dengan team Garuda Manado, kami menuju hotel yang disediakan. Garuda memfasilitasi kami untuk menginap di hotel Sintesa Peninsula yang terletak di Jalan Sudirman. Hotel berbintang 5 ini termasuk hotel yang sangat direkomendasikan untuk pengunjung yang bertandang ke Manado. Letaknya diatas bukit, kalau di Samarinda mirip-mirip hotel Mesra Internasional. Terus, yang paling seru lagi itu pemandangannya dari kamar. Saya kebetulan dapat kamar di lantai 6, dan speechless sendiri. Saya akhirnya mengakui Manado itu indah. Sangat. Di malam hari saya bisa melihat pemandangan kota manado yang gemerlapan oleh cahaya lampu. Dan pagi harinya saya bisa melihat Laut, Gunung dan Kota menjadi satu. Sumpah, saya benar-benar excited, sampai-sampai malam itu susah tidur. :p

Hari Kedua, 15 Maret 2014

Terbangun oleh Morning Call di pukul 05.00 WITA. Yap, secepat mungkin saya bangun dan bersiap untuk kegiatan hari kedua. Rencananya hari ini akan diisi dengan kegiatan hoping pulau Manado Tua, Bunaken dan Siladen. Sekitar jam 06.00 saya turun ke restaurant untuk sarapan. Sambil menunggu teman yang lain untuk berangkat. Guide kami hari ini adalah Mas David. Beliau adalah diver berpengalaman yang diharapkan bisa menjelaskan secara detail tentang Bunaken dan pesonanya.




Cityscape Manado City
Pukul 07.30 kami berangkat dari Hotel Sintesa Peninsula menuju Marina Harbour. Perjalanan menuju Marina Harbour ini memakan waktu hanya sekitar 5 menit. Disini merupakan tempat penyebrangan wisatawan Manado ke Bunaken. Harga perkapal biasanya dipatok sekitar 1,3jt hingga 2jt rupiah tergantung kesepakatan sebelumnya. Kapal tersebut hanya dapat ditumpangi oleh maksimal 15 orang. Namun, kami kesana bukan untuk menyebrang. Hanya sekilas mengambil gambar untuk dokumentasi. Kami dibawa oleh team Garuda menyebrang melalui Resort Manado Tateli.

Di Resort ini kami menuju ke sebuah tempat bernama Minahasa Dive. Disana kami dipersilahkan untuk fitting Fin dan perlengkapan snorkeling. Sayang sekali sebenarnya kami tidak disediakan waktu untuk diving. Selain karena Bunaken memang terkenal dengan bawah lautnya, saya sangat penasaran dengan diving. Diving tidak direkomendasikan oleh guide kami, karena pertama, waktu yang tidak memungkinkan, kedua, kami semua memang tidak ada yang mempunyain lisensi Diving.
Yak dipilih fin-nya
Kami berangkat menggunakan kapal yang besar. Haha, biasanya nyebrang naik kapal cuman ke Beras Basah sih dengan kapal yang biasa, begitu ketemu kapal yang gede jadi himung sendiri. Perjalanan pertama kami adalah menuju Manado Tua. Di perjalanan ini, kami juga ketambahan satu orang, yaitu Chris. Beliau merupakan wisatawan asing dari Jerman. Dan sedang melakukan cuti panjang untuk menikmati keindahan Indonesia.

Bersama Chris. :)
Manado Tua
Manado Tua merupakan sebuah pulau yang paling dekat dengan Manado. Konon katanya penduduk Manado awalnya bertempat tinggal di sana, kemudian karena mereka kesulitan pasokan air bersih, maka mereka berimigrasi ke Manado yang sekarang. Yang menarik dari pulau Manado Tua adalah pulau ini merupakan gunung yang berdiri diatas laut. Sehingga landscapenya sangat unik, gunung dan laut yang terangkum menjadi satu. 

Dan satu lagi, Manado Tua mempunyai underwater yang sangat unik. Sampai dijuluki Wall Of Coral. Julukan ini dikarenakan 50 meter selepas dari pantai terdapat jurang yang dalam. Dan sepanjang jurang tersebut ditumbuhi terumbu karang yang penuh dari atas sampai kedasarnya. Coral yang ada merupakan campuran dari Hard Coral serta Soft Coral. Itu menambah daya tariknya. Sebenarnyacara menikmati Manado Tua ini adalah dengan Diving. Namun, walaupun saya hanya mendapat kesempatan untuk snorkeling, tapi dari atas permukaan lautpun keindahan itu sudah nampak. Jadi, sedikit terobati tentang penyesalan saya tidak bisa diving. Tapi, diberi kesempatan untuk diving pun, saya tetap tidak bisa turun. Soalnya belum punya lisensi kan? -.-
Landscape Manado Tua
Manado Tua dan Jurang di airnya
Wall of Coral
Batu karang di permukaan
Sekitar 30 menit saya snorkeling. Sebenarnya masih kuat, namun mencoba menghemat energi, karena akan terus keliling dua pulau lagi. Sembari menunggu Chris yang diving hingga dasar "gunung" Manado Tua, saya mencoba mencari landscape dari pulau ini. Sayang sekali kami tidak bisa turun ke pulau karena air laut sedang sangat surut sehingga kapalnya tidak bisa merapat ke dermaga. Kami akhirnya tidak bisa berdiskusi dengan warga asli Manado Tua.

Bunaken

Selepas dari pulau Manado Tua, kami bergegas menuju Bunaken. Di Bunaken kapal kami menambat jangkar sekitar 500 meter dari pulau. Karena laut sedang surut, maka pulau bunaken terlihat sangat luas. Hamparan pasir yang ditumbuhi akar-akar bakau yang mencuat terlihat di sekelilingnya. Dan di sini, kamipun mulai snorkeling lagi. Spot-spot snorkling di Bunaken sangat banyak, sehingga kami dipilihkan yang paling dekat dengan dermaga, agar waktu makan siang tidak terlewat.

Di spot ini saya memberanikan diri untuk melepas safety jacket, kepercayaan diri meningkat karena setelah bisa menggunakan fin waktu itu, safety jacket ini malah mengganggu. Kemudian mulai berkeliling di laut lepas lagi. Kali ini pesona bawah laut yang ditawarkan adalah Hard Coral. Saya berada di kedalaman 3-5 meter. Sehingga jarak pandang agak jauh. Pasti seru kalau bisa freedive untuk 3-5 meter ini. Supaya karangnya terlihat lebih jelas. Ikan warna-warni pun terlihat disana, ada yang bergerombol, ada yang menyendiri. Benar-benar seperti akuarium ikan hias yang besar. :D
Bayangan keindahan bawah laut kedalaman 3-5 meter
Setelah lelah berkeliling di permukaan air, saya kembali ke kapal dan menyadari bahwa saya kelaperan akut. Haha.. saya coba untuk bongkar-bongkar tas yang ketemu cuman jelly. Akhirnya meredakan migrain yang datang karena keasikan snorkeling itu dengan jelly. Sembari menunggu Chris yang masih Diving.

Kemudian saya bercerita banyak dengan Mas David soal Diving. Dia menunjukkan beberapa hasil foto bawah laut yang saya pun hanya bisa meringis melihatnya. Keren banget. Belum lagi coral-coral di bawah laut yang warnanya jauh lebih eksotis dibandingkan yang di sekitaran 5 meter. Memang benar, Bunaken itu surganya bawah laut. Saya hanya bisa bisa tertegun sambil menguatkan niat dalam hati. Harus balik lagi ke Bunaken dan harus bawa lisensi jadi bisa eksploring secara total.
Minimal bisa begini. :(
Chris dan Instrukturnya sedang diving
Tidak berapa lama, Chris pun muncul ke permukaan. Sepertinya ada terjadi kesalahan teknis dengan beliau. Mungkin beliau terlalu cepat naik ke atas permukaan laut, sehingga mimisan. Tapi saat di konfirmasi mengenai keadaannya, dia meyakinkan kami bahwa dia baik-baik saja. Kami langsung angkat jangkar dan berangkat ke pulau Bunaken. Perut benar-benar sudah minta diisi. Hehe.

Di Pulau Bunaken, kami makan siang dengan menu khas Manado. Yaitu Woku dan beberapa tumisan. Ditambah es kelapa muda, benar-benar membuat tenaga saya full kembali. Setelah puas dengan makan siang, kami melipir ke resort di sebelahnya untuk mengambil gambar. Setelah itu kami mengabadikan foto keluarga seluruh rombongan.

Siladen.

Setelah beranjak dari Bunaken, kami menuju Siladen. Saat perjalanan menuju pulau ini, satu hal yang menggelitik terlintas di benak saya. Ya, saya teringat akan Pulau Beras Basah yang ada di Bontang. Pulau ini jauh lebih kecil dibanding Manado Tua ataupun Bunaken. Namun luasnya mungkin sekitar 2-3 kali pulau Beras Basah.

Dan yang lebih membuat saya histeris adalah, saat kapal merapat ke dermaga, dari atas kapal saya bisa melihat hamparan terumbu karang yang luas dan berwarna warni. Terlihat pula menyempil diantaranya beberapa bulu babi. Dari atas pun saya melihat warna-warni ikan yang berenang kesana kemari. Ya, hamparan Soft Coral itu benar-benar pecah. Dan, saya kemudian jadi jauh lebih histeris karena baterai kamera underwater yang saya bawa, habis. Akhirnya, saya tidak bisa mendokumentasikan bawah lautnya, padahal saya mau pamer warna-warninya ke teman-teman saya. Hiks, memang niatan buruk itu jalannya pasti susah. :(

Tapi, karena kak Ecky membawa underwater case untuk gadgetnya, saya rasa, its okay. Setidaknya bisa foto selfie di bawah airpun cukup untuk saya. Masalah foto coral, saya pasti akan kembali kesana lagi dan mengabadikannya. Saya harus puas dengan itu. Tapi setidaknya ini malah menguatkan niatan saya untuk kembali ke Manado dan kembali dengan persiapan yang jauh lebih matang.
Selepas perjalanan ke pulau Siladen, kami kembali ke kota Manado. Saya memuaskan diri menikmati view yang disajikan terhampar luas di depan saya. Suguhan pegunungan dan landscape kota Manado yang digawangi laut sungguh mempesona. Dari sini saya benar-benar mengetahui, Sulawesi itu ternyata sangat indah. Saya jadi tidak sabar merencanakan untuk pergi ke tempat-tempat lainnya di sana.Sempat beberapa kali kapal kami berguncang agak keras karena gelombang yang besar. Namun, saya sih ngerasa aman-aman aja. Soalnya gelombangnya paling sekitar 1-1,5 meter, dan ini kapal besar. Tapi, dengar-dengar ombaknya bisa mencapai 7 meter loh. Yah, mungkin kalau ketemu gelombang yang seperti itu baru saya deg-degan.

Kembali mendarat di Manado. Mungkin karena terlalu lama bergoyang-goyang di laut, saat menjejak daratan pun seakan-akan masih bergoyang-goyang santai di laut. Hehe, ini kalau temen saya bilang adalah Ship-lag. Kami pun bersiap-siap pulang kembali ke hotel, bebersih dan kemudian berangkat makan malam. Namun, sebelum itu, kami mampir di Toko Oleh-oleh yang buka 24 jam. Dan di sinilah saya mengetahui insiden kecil yang berbuntut panjang. Haha, yap, dompet saya menghilang entah dimana. Tapi Alhamdulillah, ternyata hanya tertinggal di resort, hanya saja tetap harus meninggalkan dompet saya disana, soalnya besok siangnya baru bisa diambi, sedangkan pesawat saya pagi sudah take off. Tapi, alhamdulillah lagi, Mas David bersedia mengurus dan mengirimkannya kembali. :)

Setelah itu, kami kembali ke hotel dan bersiap berangkat makan malam. Makan malam saat itu sudah seperti tidak berjiwa. Terutama saya. Hehe, sepertinya saat hoping pulau tadi, saya menggunakan seluruh semangat saya. Sehingga saat makan malam, malah ngantuk sejadi-jadinya. :D Kami makan di Iga Bakar Wong Solo. Eaa.. di Manado juga ada makanan Jawa ternyata. :p Tapi, karena saya kangen dengan nasi goreng, akhirnya nasi goreng yang jadi incaran saya. 

Perut kenyang, lelah dan mengantuk. Perjalanan kembali ke hotel, benar-benar hilang sama sekali. Saya langsung kembali ke kamar untuk beristirahat. Karena besok jam 04.00 kami harus bangun dan siap-siap untuk pulang ke Balikpapan lagi di penerbangan pukul 06.05 WITA. Sepertinya hanya hitungan detik setelah saya meletakkan badan di tempat tidur dengan nyaman, saya langsung tertidur. Pengalaman seharian itu benar-benar memenuhi kotak kebahagiaan saya, sehingga saya tidak perlu capek-capek berusaha untuk tidur. :)

Hari Ketiga, 16 Maret 2014

Morning Call kembali membangunkan saya tepat pukul 04.00, dan sayapun bergegas packing untuk bersiap-siap pulang. Berakhir sudah petualangan saya di Manado. Kalau saya boleh rangkum dalam satu kata, maka kata tersebut adalah "indah". Manado dengan keindahan alamnya, keramahan penduduknya, dan keistimewaan perjalanan karena semua diatur oleh Garuda. Wuah, betapa beruntungnya saya. >.<

Pukul 05.00 kami sudah lengkap di Lobby hotel dan check out. Memastikan sekali lagi bahwa tidak ada yng tertinggal, kamipun berangkat ke Bandara Sam Ratulangi untuk menaiki pesawat paling pagi dari garuda. Dan jam penerbangan ini adalah jam penerbangan terakhir rute Manado-Balikpapan. Karena keesokan harinya jadwal MDC-BPN adalah pukul 13.45 WITA. 

Setelah briefing sedikit, kami kembali menjelajah perjalanan ke bandara saat hari gelap. Sayang sekali tidak bisa menikmati pemandangan perjalanan ke bandara, 2 kali kami harus ke bandara disaat matahari tidak menampakkan dirinya. Dan setibanya kami di Bandara Sam Ratulangi Manado, kami disambut gerimis manis yang membuat lagi-lagi gagal mendokumentasikan bandaranya. Ya sudahlah, mungkin memang benar harus kembali kesana lagi. :)

Setelah checkin dan berpamitan, kami tidak perlu menunggu waktu lama langsung menuju pesawat Garuda Bombardier CJR1000. Dan tepat pukul 06.05 WITA kami take off dari Manado. Oom Timpakul sempat mengatakan sayang sekali tidak bisa sarapan dengan nasi kuning ikan cakalang khas Manado. Tapi, kekecewaannya itu terbalaskan dengan menu breakfast dari Garuda. Kami disuguhi Nasi Kuning Ikan Cakalang dengan puding jeruk sebagai dessertnya. Terbayarlah sudah rasa penasarannya.
Menikmati Sunrise dari Atas Awan bersama Garuda.
Breakfast ala Garuda
Pukul 08.00 kami tiba di Bandara Internasional Sepinggan. Dan kami pun berpisah di sana. Perjalanan berakhir kawan. Senyum saya tidak pernah berhenti terpatri jika mengingat betapa Manado itu luar biasa. Perjalanan singkat ini pun luar biasa. Banyak pencapaian-pencapaian yang berhasil dilaksanakan, pun banyak pula target-target serta destinasi baru yang hendak dicapai. Yang jelas, di dalam list tempat yang ingin saya tuju, Taman Laut Nasional Bunaken sudah bisa saya coret. Selanjutnya laut mana lagi yang akan saya sambangi ya? Entahlah, biarlah kaki ini yang melangkah, dan Tuhan yang menunjukkan jalannya.

Kesimpulan dari perjalanan dua malam satu hari di Manado ini adalah luar biasa. Ya, saya sangat bersyukur dipersilahkan menikmati semua keindahannya. Semua ini tidak lepas dari peranan Garuda Indonesia yang bersedia mengadakan Media Trip ini. Saya perlu memberi applause yang banyak kepada Garuda. Ternyata bukan hanya kabar belaka bahwa pelayanan maskapai ini sangat menyenangkan dan memuaskan, jauh di atas ekspektasi saya.. Saya akhirnya merasakan sendiri, bahwa Garuda Indonesia memang Maskapai penerbangan yang care dengan konsumennya. Terimakasih banyak Garuda Indonesia, terutama Garuda Indonesia Regional Balikpapan dan Manado, semoga dilain kesempatan masih bersedia have fun bersama. :)

Nice to see you guys! :)
Sekian cerita saya dari Bunaken. Maaf ya jadi pada iri. Haha.. tapi iri merupakan motivasi yang dahsyat untuk bisa terus maju. Ayok terus menjelajah. Ayok terus bereksplorasi. Karena ada hal-hal yang tidak bisa di dapat jika tidak secara langsung melihatnya sendiri. 

Salam dari saya. 
Frisca D. Putri
*kisshug*


"Traveling merupakan suatu bentuk mencintai negeri ini dengan cara sederhana" 
- Backpacker Indonesia Bandung :)