Laman

Last Trip on 2013 : Labuan Cermin yang Eksotis di Desa Biduk-Biduk

"Labuan cermin adalah danau dua rasa yang terletak di Desa Biduk-Biduk, sekitar 6 jam dari pusat Kabupaten Berau. Disebut sebagai danau dua rasa karena danau ini menjadi tempat bertemu dua jenis air yang berkumpul menjadi satu, yaitu air laut dan air tawar. Air tawarnya sepertinya datang dari salah satu mata air di dalam hutan. Dan Air lautnya dari muara. Menyatu di sebuah sudut yang akhirnya menjadi danau dua rasa."

Oke, jadi begini. Sebenarnya trip ini adalah bentuk dari salah satu obsesi saya yang bosan akan pergantian tahun yang begitu-begitu saja. Menginginkan sebuah hal yang benar-benar baru. Merayakan pergantian tahun dan menyaksikan matahari pertama di tahun 2014 di pinggir pantai menjadi pilihan tersendiri. Dan, entah memang rejeki saya atau bagaimana, seorang sahabat saya menawarkan untuk ke Biduk-biduk melakukan kegiatan volunterism dan banyak lagi. Lalu saya berfikir, kenapa tidak? Mencoba suatu hal yang baru adalah kesenangan tersendiri, dan mendatangi tempat baru adalah hal menarik lainnya lagi. :)

Ini Tujuan Utama di Biduk-Biduk, Danau Labuan Cermin
Singkat cerita, ternyata sudah masanya tiba untuk berangkat. Setelah melalui beberapa perdebatan panjang, team Samarinda Backpackers ternyata sebagian besar akan berangkat. Namun, terbagi menjadi tiga kloter. Kloter pertama berangkat tanggal 24 Desember 2013, menggunakan mobil, karena ga bisa dapet cuti tanggal 27 dan seterusnya. Kloter kedua berangkat tanggal 24 Desember 2013 juga, touring dengan sepeda motor, dan mau lanjut ke Derawan. Dan saya berada di Kloter ketiga yang melalui jalur darat dengan mobil dan khusus menghabiskan waktu di Biduk-biduk serta Teluk Sumbang saja.

Kloter ketiga terdiri dari 6 orang. Yaitu Mpo Norma, Mpo Athie, saya, Kak Firman, Kak Akbar dan Kak Agus. Kami sepakat naik mobil 4WD karena melihat temen-temen yang udah kesana duluan sempat kesulitan di jalur off-road nya. Yah, namanya juga mobil 4WD, di tengah akhirnya berjejal 4 orang yang imut-imut ini. Saya, mpo athie, kak akbar dan kak firman. Sedangkan sang driver, kak Agus dan Navigatornya, mpo Norma, berada di depan.

Ini Kloter Saya. Kloter Ketiga :3
kika : Mpo Noru, K'Firman, K'Akbar, K'Agus, Mpo Athie, Me
Kami berangkat dari Samarinda pada tanggal 27 Desember 2013 pukul 17.30 WITA. Dan nyampe di Desa Biduk-Biduk pada tanggal 28 Desember 2013 sekitar pukul 11.00 WITA. Perjalanan tempuh memang cukup panjang mengingat jalur yang luar biasa dan jarak tempuh yang lumayan panjang. Applause buat driver kami yang rela gak tidur semalaman gegara ngejar ferry GM di pagi hari. *yah walaupun dengan itu kami yang duduk ditengah harus tahan banting tahan goncangan berlebih dan tahan kejeduk*. Rombongan kami sampai di Ferry penyebrangan pukul 4 pagi kurang. Dan jam segitu belum ada kapal yang akan menyebrangkan kami, sehingga waktu menunggu digunakan untuk istirahat sejenak. Sekitar pukul 5.30 sang kapal pun mulai beroperasi dan kami kembali melanjutkan perjalanan.

Pagi Buta, Belom Mandi Belom Tidur, di atas Ferry.
Oia, hampir lupa, kami ketambahan satu personel yang ikut menggunakan sepeda motor. Mas Ogie. Dan luar biasanya dia sukses melewati jalur Lenggo yang penuh dengan lumpur. Walau sempet stak sebentar namun beliau tetap bisa menghabiskan jalurnya sampai habis. Keren!

Ini loh, Jalur Lenggo yang Luar Biasa itu..
Mas Ogie yang sedang membersihkan lumpur di ban depannya.
Perjalanan setelah penyebrangan ferry hingga biduk-biduk memakan waktu kurang lebih 4 jam. Namun, sayangnya, sesampainya di rumah Kak Eko, guest house kami di Biduk-biduk, teman-teman rombongan kloter I dan kloter II sudah siap-siap berangkat. :( sehingga tersisa hanya kami berenam saja. Dan mas Ogie pun ikut pulang lagi bersama kloter 1 dan 2 padahal baru saja sampai. Alasannya sebenarnya adalah ingin menghapalkan jalur samarinda-bidukbiduk. Dan kemudian kembali ke Samarinda karena ada kerjaan di hari minggu sekaligus mumpung ada teman balik.

Pertemuan Pertama dengan Mas Eko
Kami Baru datang, Mereka udah pergi.. :(
 Lucunya, setelah sampai di rumah kak eko, kami semua belum bisa istirahat dalam damai. Ternyata di bak belakang, jirigen solar cadangan bocor, dan solarnya menumpahi sekian banyak barang bawaan. Dan yang paling apes adalah saya, karena saya tidak menggunakan plastik di dalam tasnya, semua baju ganti saya kena solar. Akhirnya siang hingga sore itu digunakan untuk ngucek bareng di pinggir pantai. *ah.. jari-jari ku... :')*

Beruntung sekali kami diijinkan tinggal di rumah kak eko. Makan dan minum terjamin. Segala-galanya ada. Bapak dan Ibu semuanya ramah. Bener-bener penjamuan yang luar biasa dan bikin betah. Hari itu kami habiskan benar-benar hanya untuk istirahat dan jalan-jalan santai ke Teluk Sulaiman sembari mencari kapal untuk ke Teluk Sumbang esok lusanya. Oia, dan hari itu kami juga kedatangan tamu dari berau, yaitu mas Kurniadi yang ikut menginap di kediaman mas Eko, dan Mas Alyas beserta rombongan yang menginap di penginapan.

Sesi di Depan Rumah Mas Eko
Ini tempat curcol paling sering kemaren. ahaha.
Setelah tidur cantik semalam. Paginya kami kembali menjemur barang-barang rendaman kemaren. Demi esok hari, udah gak punya baju lagi, hiks. Kemudian, mempersiapkan jadwal hari ini, rencananya kami akan menjelajah Danau Labuan Cermin. Berenang dengan riang dan mencoba mengeksplore danau di atas labuan cermin yang jarang di datangi orang. Mungkin kalau bisa mengeksplore bawah airnya, akan lebih baik. Namun, saya jelas gak ikutan. *gak bisa berenang mode : on*

Sekitar pukul 12.30 WITA kami berangkat ke Labuan Kelambu. Kami disanguin sama Ibu, satu termos es nata de coco buatan ibu yang super seger untuk bekal di labuan cermin, dan beberapa makanan kecil, karena kata Ibu nanti disana pasti laper. Kak Alyas dan temannya, yaitu Kak Heri juga ikut bergabung bersama kami di pelabuhan. Jadi total group kami menjadi 11 orang ditambah mas eko dan mas Dyan (kakaknya mas eko).

Foto Keluarga di Icon Labuan Cermin
Perjalanan ke labuan cermin memang harus menggunakan kapal, dan jarak tempuh sekitar 8-10 menit. Tapi, waktu segitu gak akan kerasa karena view yang ditawarkan begitu mempesona. Sepertinya kedatangan kami di siang hari itu sangat tepat. Karena saat matahari berada di atas kepala, warna Hijau-toska dan Biru-Toska yang dipantulkan oleh danau itu menjadi lebih terang. Benar-benar warna yang mengagumkan, karena baru-baru ini juga warna toska menjadi favorit saya. Bagaimana bisa saya tidak mensyukuri perjalanan ini? :)

Naik Kapal Begini :3
Sesampainya di Labuan Cermin, hujan rintik pun datang. Yah, gak heran karena sebelumnya saat di pelabuhan pun, langit mendung. Kami ber-11 bergegas treking menuju Danau Atas Labuan Cermin. Sang guide, yaitu Kak Firman dan Mas Eko rupanya lupa-lupa ingat juga, sehingga setelah beberapa lama baru bisa menemukan Danau tersebut.

Penampakan Hidden Paradise :3
Danau Atas Labuan Cermin
"Subhanallah..." adalah ungkapan kekaguman yang paling pantas saat itu. Karena sesampai di danau yang benar-benar terlindungi oleh hutan tersebut, kekaguman yang membuat kata-kata apapun tidak mampu mengungkapkannya menyeruak di dada. Mungkin, speechless adalah perumpamaan yang tepat. Danau itu begitu jernih, begitu asri. Sedikit dikelilingi aroma mistis karena memang belum ada sentuhan tangan manusia disana. Sebuah batang pohon yang tumbang melintang di tengah danau, menambah semburat kuning di danau itu. Menurut saya, itu adalah salah satu Hidden Paradise yang sesungguhnya. :)

Kemudian, atas dasar perasaan penasaran, Kak Agus dan Mas Eko mencoba menyelam disana. Hujan turun semakin deras, namun tidak menyurutkan semangat mereka. Lalu satu persatu pun ikut meluncur ke dalam air. Yang tinggal hanya yang gak bisa berenang seperti saya dan mas Adi yang akhirnya dapet tugas ngefotoin dari jauh. *Sial!* Tapi, saat matahari mulai timbul diantara pohon, membias ke dalam air, pemandangannya jadi jauh lebih keren. Kilauan seperti berlian terpantul dari permukaan danau yang jernih. Benar-benar indah. So, it's getting okay for me, walau gak bisa nyobain free diving, masih bisa liat pemandangan bagus di permukaan pun cukup. Iyalah, cukup. Daripada maksain free-diving tapi habis itu nggak muncul-muncul lagi ke permukaan?

Team Explorer :3
Setelah puas explore under waternya, kami semua kembali turun ke labuan cermin untuk mulai exploring under water labuan cermin. Dan saya? Yap... kali ini saya ikut explore. Menggunakan safety jacket tentunya. Haha... Berusaha belajar berenang sedikit, tapi mungkin karena kepesimisan saya, jadi ya tetep gak bisa. Padahal udah dua orang yang bantu buat ngajarin, tetep aja payah. Hanya saja, dengan begini semangat belajar berenang makin tinggi. Pokoknya saat kembali ke sini lagi, saya harus bisa berenang. Harus !

Bawah air di Labuan Cermin tidak berisi terumbu karang. Hanya sebagian kecil di pinggiran yang dikelilingi karang. Selebih itu hanya jajaran pasir. Itupun tidak bisa disentuh oleh saya. Karena kedalamannya yang mencapai 7 meter, otomatis saya dan sebagian besar rombongan yang lain hanya bisa menikmati dari atas. Namun yang menarik adalah *katanya* ada beberapa gerombolan ikan di tengah danau. Kalau tidak salah orang menyebutnya Schooling Fish, ikan-ikan dalam jumlah yang cukup banyak berenang bergerombol. Tapi, kenapa harus disebut schooling ya? Bisa jadi, mereka lagi musyawarah mencapai mufakat.. atau mungkin lagi arisan.. atau mungkin lagi modus-modusan dan sepik-sepikan. Tapi, ah, sudahlah. Biarkan saja.

Sangking jernihnya, dasarnya keliatan.
Warnanya airnya itu loh,, Greget!
Ini Dermaganya, tpt yg ga bsa berenang..
Under water bawah dermaga
Karena luas, susah dapetin landscapenya. yang kena ya ini"aja..
Tapi, yang paling saya ingat adalah sensasi kesegarannya. Berenang di danau dua rasa itu benar-benar luar biasa. Belum lagi sesaat indra pendengaran menghilang karena tertutup air. Rasanya seperti terhisap kedalam sebuah dimensi tersendiri dimana sebagian besar warna yang terlihat hanya toska dan toska. Seharian pun berendam disana saya pasti tidak akan bosan. Seandainya saja saya bisa berenang dengan bebas. Pasti udah kesana kemari gak tentu arah. Sungguh sangat disayangkan sebenarnya, ketidak berdayaan karena tidak bisa berenang ini mulai mengganggu. Hingga akhirnya nazar pun terucap, sepulang dari trip ini saya akan konsisten belajar berenang. :)

Ini Biar nda dibilangin hoax kalau ikut nyebur~
Waktu menunjukkan pukul 16.30, kami semua sepakat untuk menyudahi petualangan kami sore itu. Selain badan yang sudah mulai letih karena berenang dan menyelam, ternyata perut kami pun sudah menuntut untuk diberi asupan. Haha.. kamipun kembali dengan hati riang. Kembali ke rumah mas eko dengan puas. Tujuan utama, exploring danau atas Labuan Cermin, Completed.

Sesampainya di rumah mas eko, setelah dengan songongnya naroh barang dengan tergesa-gesa. Saya langsung lari ke seberang jalan di depan rumah mas Eko. Ombak pasang di pantai nan jernih itu memanggil saya kembali ke sana. Diikuti oleh Mpo Noru, kami langsung teriak-teriak kesenangan berlari-lari di pantai. Ombak yang lumayan besar itu menghempas tubuh kami kesana kemari. Sebuah perbuatan yang cukup bodoh sebenarnya, karena tanpa kami sadari, tepat di bawah kami banyak karang yang lumayan tajam. Dan bayangkan saja... tubuh kami terguling di tumpukan karang itu, menyisakan bekas-bekas tergores dimana-mana. Tapi, tetep saja, euforianya sore itu benar-benar bisa mengalahkan rasa sakit seperti apapun. Haha.

Ini Pantai di depan rumah Mas Eko
Biar kegulung ombak masih bisa ketawa -.-
Ini Pantai di Biduk-biduk saat cuaca cerah
Waktu surut juga masih aja mempesona.
Tidak lama sesudahnya, teman-teman yang lain mulai berdatangan. Kak Firman, Kak Akbar, Kak Adi, Mpo Atie, Kak Agus dan Kak Heri mulai menyusul. Sepertinya mereka tertawa-tawa saja melihat saya dan wanita-wanita yang lain *wanitanya cuma tiga orang sih* jejeritan kaya anak kecil. Yap, keceriaan sore itu menjadi penutup yang lengkap untuk petualangan hari pertama penjelajahan Biduk-biduk dan Labuan Cermin. Petualangan kami masih akan berlanjut. Kami masih akan bermesra-mesra dengan biduk-biduk dan Teluk sumbang di keesokan harinya. Yang tentunya akan saya ceritakan di postingan selanjutnya, karena banyak hal seru terjadi disana. Ah, Pokoknya, Biduk-Biduk, I'm Falling in Love With You.. :*

Resume by Frisca :
Kelebihan :
  • Desa Biduk-Biduk merupakan desa yang berada di sepanjang garis pantai. Di rumah manapun kalian berada, viewnya tetap tidak akan bisa lepas dari laut.
  • Laut yang terlihat sangat berbeda dengan laut-laut yang ada di sekitaran Balikpapan, dan lebih bagus daripada Bontang. Sangat jernih, dan berpasir putih. Jika siang dalam keadaan cerah warna laut akan membentuk gradasi mengagumkan antara biru dan hijau toska.
  • Danau Labuan Cermin, yang tidak ada duanya. EPIC !
  • Semua warga disana adalah penduduk yang ramah. Tidak jarang menawarkan tempat tinggal gratis. Seperti my beloved Ibu dan Bapaknya mas Eko. *kangen Ibu.. :(*
  • Kalau udah nyobain kesana sendiri pasti tau kok, ini adalah tempat yang worth it banget buat dikunjungin.
Kekurangan :
  • Kadang, kalau lagi surut, wilayah labuan kelambu, tempat penyebrangan ke Labuan cermin, sedikit terlihat kotor karena sampah.
Saran :
  • Menjadi orang yang ramahlah, dan banyak tersenyum serta tidak sungkan untuk bertanya, Semua penduduk Biduk-Biduk selalu welcome dengan pengunjung dari berbagai kota. Jika beruntung, kalian bisa dapet guest house yang luar biasa baik seperti kami. ;)
  • Bagi yang suka makan cabe, cabe yang dijual di Biduk-Biduk rata-rata hanya cabe rawit. Jadi jangan kaget ya.. 
  • Saat terbaik ke Danau Labuan Cermin adalah pukul 12 siang ke atas. Karena pada saat cerah sinar matahari yang terbias oleh air akan merubah warna air danaunya. Superb..
  • Karena wilayah ini sungguh masih sangat asri, saya tidak akan bosan berpesan untuk selalu menjaga kebersihan, tidak membuang sampah sembarangan selama berada disana. Ikutlah menjaga ciptaan Tuhan, itu tugas kita bukan?
*NB:
Oia, Kepada teman-teman yang merasa fotonya saya gunakan disini, saya minta maaf karena udah langsung pasang dan kasih watermark. Harap dimaklumi, karena si ganteng tidak seluruhnya mengcapture moment"indah kita... Dimaafin kan? Love You Guys.. *cipokbasah*