Halaman

Untuk Siapapun Yang Terganggu dengan Pertanyaan : "Kapan Nikah"

Berjanji menanggapi suatu postingan Tumblr yang berjudul Upaya(ku) Menikah: Antara Mitos, Doa, Tradisi Lokal, & Pemantasan Diri (?) dari seorang rekan saya, yaitu Mba Ellie Hassan, membuat saya mengesampingkan sekitar 13 draft di dalam blog ini, dan 20 draft postingan Tumblr saya. Sehingga, inilah jawaban saya terhadap postingan luar biasa dari mba Elli tersebut.

Jadi begini ceritanya. Saya mulai cerita ini dari sekitar 6 tahun yang lalu. Di awal masa-masa usia kepala dua saya, saya mempunyai niat untuk naik ke pelaminan pada usia ke-23 nanti. Dan pada saat ulang tahun ke 23, niat itu kandas. Dan kembali memasang target untuk tahun ke-25.

Kemudian, tepat 9 bulan yang lalu, perjalanan hidup saya pun mencapai hitungan 25 tahun, dan masih juga tidak bisa memenuhi target saya. Belum lagi rasa iri saat mendapat undangan dari teman-teman terdekat yang akan melangsungkan pernikahan. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan dengan nada mengejek, pandangan kasihan yang selalu saya dapatkan saat menghadiri acara pernikahan tersebut. Belum lagi yang niatnya memang cuma iseng, tapi tetep bikin rasa nyeri-nyeri kecil di hati. Saya sampai berfikir, well.. sepertinya ada yang salah dengan saya.

Tapi, setelah saya membaca postingan Mba Ellie tentang kemuakan dirinya, saya rasa apa yang saya alami ini belum seberapa. Saya tersenyum-senyum saat membaca usaha-usaha yang beliau lakukan, dan membandingkannya dengan diri saya sendiri. Tetap satu pertanyaan itu kembali menusuk-nusuk otak saya.. 

"Sebenarnya apa yang kurang dari Mba Ellie? Cantik, menarik, atraktif, karir luar biasa, masa depan terjamin, pribadi bersahaja, ramah, cerdas, dan banyak hal baik lainnya yang ada pada dirinya. Lalu kenapa beliau belum menikah? Apa yang salah dari dirinya?"

Tentu saja, pertanyaan saya diatas akan langsung terjawab jika beliau ternyata mempunyai orientasi seksual yang menyimpang. Tapi, sepengamatan saya, itu tidak mungkin. Dia masih suka sama laki-laki kok. Lalu apa? Apakah karena dia amat sangat luar biasa sehingga tidak ada lelaki yang berani mendekatinya karena takut kalah saing. Well,, sini saya beritahu, kalian semua lelaki yang berfikir begitu adalah bodoh. Wanita, akan selamanya menjadi wanita. walaupun harta, kecerdasan, dan pendidikan kami jauh lebih tinggi, tapi kami mengetahui hakikat kami sebagai wanita. Kami ada untuk membantu kalian memimpin. Jika dari awal kalian takut memimpin kami, karena ketidak percayaan diri kalian dalam memimpin, yah, itu berarti silahkan kalian menyalahkan ketidakmampuan kalian. Selesai.

Mungkin ini alasan menikah yang lebih realitis,
rite ladies? :p
Dan, satu paragraf di postingan mba Ellie yang membuat saya terkejut, karena sama persis dengan apa yang saya pikirkan.
"Menikah bukan perlombaan, siapa yang cepat dia yang unggul dan menang dan yang belum menikah dianggap lambat dan lamban, dan betapa ruginya tidak bisa segera menikmati hidup. Jadi apakah menunggu menikah baru menikmati hidup?"
Ya, menurut saya menikah bukan perlombaan, menikah itu nilainya ibadah, bahagia yang didapatkan di dalamnya itu tambahan. Maafkan komentar sinis saya berikut, namun inilah yang saya simpulkan melihat kejadian nyata yang sering saya lihat. Kebahagiaan setelah menikah itu Semu. Mungkin, semua yang bilang "Enak loh nikah itu, bisa gini, gitu, dll" adalah orang yang ingin menjerumuskan orang lain dalam masalah yang dia alami. Mungkin saja dia iri dengan segala kebebasan yang dipunya oleh orang yang belum menikah, mungkin saja.

Pengamatan saya di dunia nyata tentang pernikahan adalah kebahagiaan di tiga tahun pertama, sisanya adalah cobaan tiada henti. Toleransi, kesabaran, dan komitmen sudah pasti jadi bahan uji nyali setiap hari. Okelah jika pasangan yang menikah ini adalah dua pribadi yang mengerti tentang hal-hal tersebut dan mampu melaluinya dengan santai. Lalu bagaimana jika dua pribadi tersebut ternyata tidak mengerti dan tidak siap? Cerai. Yeah, pantas saja buku nikah makin langka, makin banyak yang menyia-nyiakannya.

Lalu, pertanyaannya adalah apakah saya tidak ingin menikah? Tentu saja saya ingin menikah. Tapi, kalau pertanyaannya diganti menjadi "Apakah kamu ingin menikah sekarang?" Jawabannya adalah tidak. Saya sepertinya termasuk dalam orang-orang yang belum siap akan komitmen. Namun, tetap, saya sedang mempersiapkan diri saya sekarang untuk bisa mengerti arti komitmen dan toleransi agar keluarga yang saya bina nantinya akan jauh dari kata tidak bahagia. Saya ingin, pada saat saya menikah nanti tujuan saya menikah bukan karena terpaksa, tapi karena niat tulus beribadah kepada Tuhan saya. Dan, kapan saya akan siap? Allah yang tahu kapan saya siap. Saat saya siap, dia akan segera secepat kilat mengirimkan calon Imam saya ke hadapan kedua orang tua saya. :)

Well,, mba Elli, dan siapapun yang terganggu dengan pertanyaan "Kapan Nikah?", sepertinya cukup dari saya. Menikmati kebahagiaan sebagai single itu penting. Karena, saat kita berkeluarga nanti, kita pasti akan merindukannya. Jadi, jangan biarkan kebahagiaan yang kita miliki sekarang dirusak oleh orang-orang yang hanya berfikir bahwa tujuan akhir hidup di dunia ini adalah  menikah. Kebahagiaan kita ada di tangan kita sendiri. Ya kan? Mari kita berbahagia dengan cara kita sendiri, selagi Tuhan di sana mempersiapkan skenario terbaik untuk kita. :)

Full Of Love,
Frisca. :*