Laman

[Fiksi] Promise

Kutatap lagi dalam-dalam matanya. Jantung ini sudah berdetak tanpa bisa kuikuti lagi iramanya. Tapi, tidak akan kubiarkan air mukaku berubah. Tetap. Dia harus tahu aku serius. Ini tidaklah mudah, saat airmata sebenarnya ingin mengalir keluar tanpa hambatan. Saat sebenarnya kakiku sudah lemas, ingin segera menjatuhkan diri ke pelukannya.

Namun, kali ini, aku tidak akan kalah. Karena aku tidak salah. Malah, sebenarnya inilah yang harus aku lakukan sedari dulu.

"Kamu serius?" Alunan suara yang paling kuhafal seumur hidup itu menggelitik telingaku.

"Ya, sudah pasti aku serius." Aku mendatarkan suaraku, menahan gemetar yang mulai merambati tenggorokanku.

"Saat ini? Sekarang? Berpisah?" Kembali dia mempertanyakannya dengan nada bodoh.

"Ya, Sekarang, berpisah, selamanya." Ulangku pelan. Kumohon, jangan dulu jatuh airmata ini.

"Tapi..."

"... tapi, kamu mencintaiku. Ya, aku tahu itu."

"Lalu?"

"Lalu apa? Apakah itu tidak berarti apa-apa? Tentu saja itu berarti." ucapku tidak sabar, "Tapi, apakah kakak lupa, mencintaiku itu adalah sebuah kesalahan." Lanjutku.

"Persetan dengan itu semua," hardiknya, "aku sudah muak dengan kata-kata itu, Shaffira. Kita bisa melalui ini kan?"

"Tidak kak, sudah waktunya kita berhenti membohongi diri sendiri. Sudah waktunya kita menghargai waktu kita bersama selama ini. Dengan menguburnya baik-baik dan mengenangnya dalam hati. Cinta ini akan menghilang seiring berjalannya waktu. Aku yakin."

"Sepertinya kalau kamu yang mengatakan, semua terlihat mudah. Aku tahu kamu tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu."

Aku terdiam. Dia benar, aku tidak mencintainya. Paling tidak, aku tidak pernah mengatakan aku mencintainya. Dan, aku tidak akan pernah membiarkan diriku mengatakan mencintainya. Karena, aku tidak mau terluka. Mencintai namun tidak bisa memiliki, buat apa?

"Ini pasti sangat mudah bagimu, kan? Melupakanku, menjalani hidup baru tanpaku. Mungkin, mudah buatmu, tapi tidak buatku." Satu titik air menjalar di pipinya.

Ah, air mata. Baru kali ini aku melihatnya menangis. 

"Sulit bukan berarti tidak bisa kan? Kakak hanya tidak mau, bukan tidak bisa." kataku dengan suara tertahan. 

Kak Topaz memandangku tidak percaya. Lama dia menatapku, mencari celah-celah kebohongan dalam suaraku. Mencari setitik senyum usil yang biasa kusembunyikan. Namun, tidak untuk kali ini. Aku serius. Ini harus diakhiri, sekarang, atau tidak sama sekali.

"Beri aku waktu." Pintanya.

"Aku sudah tidak punya waktu, kak." Perlahan kuseka air matanya. Lucu, mengingat betapa aku yang seharusnya menangis.

"Kamu bisa berusaha, Shaf." 

"Tidak, kak. Aku sudah tidak mau berusaha lagi."

"Jadi, kamu akan mengakhirinya seperti ini? Dengan aku yang terpuruk dan kamu yang bisa tersenyum bebas?"

"Kamu ingin aku menangis? Aku bisa menangis untukmu selama yang kamu inginkan. Namun, tetap tidak akan bisa merubah takdir kita kak." 

Kemudian, aku tersenyum kecil dan meraih tangannya. Menggenggamnya di depan dadaku.

"Kak, aku selalu suka senyummu, tawamu. Bisakah diakhir hubungan kita, aku mengingatmu tersenyum? Ini yang kita janjikan kan? Berpisah dalam senyum? Bisakah kita akhiri ini semua tanpa ada perdebatan panjang? Bisakah kita segera mengikhlaskan semua ini, menjadikannya kenangan terindah dalam hidup ini?"

Dia menunduk dan menggeleng. Ah, hatinya pasti amat kesakitan. Aku tidak pernah melihat sosoknya selemah ini. Topaz Wirabuana yang kukenal bukanlah orang yang cengeng dan bisa menangis dengan mudah hanya karena soal bertemu atau dengan seorang wanita.

Masih terpatri jelas di ingatanku, sosok santainya saat pertama kali bertemu denganku. Dia menyambutku dengan hangat dalam kelompok penelitiannya. Aku yang hanya tukang ribut ini, diterima karena katanya dia butuh badut dalam kelompok pecinta logikanya. Aku dengan indeks prestasi minim ini bisa membuat kelompok ini lebih ceria, katanya.

Lalu, kuingat lagi tawanya, kelakarnya, sifat-sifat usilnya. Betapa kami tidak akan kekurangan lelucon. Betapa dia mampu membuatku tertawa. Aku yang biasa membuat orang tertawa ini, malah dibuat tertawa terbahak-bahak hingga berlutut di lantai. Dan, betapa dia sangat menyenangkan untuk ukuran orang-orang yang terbiasa berfikir rasional.

Dari awal pun, aku sudah menyukainya. Semenjak dia mendengarkan dengan sungguh-sungguh tentang apa yang kubicarakan saat orang lain tidak ingin mendengarnya. Sesekali mencubit pipiku karena gemas. Mengacak-acak rambutku saat dia tau aku sedang mengusilinya. Memberikan cokelat favoritku saat aku sedang bad mood mendadak. Memperhatikanku, menyayangiku.

Aku tahu dia sudah punya tunangan. Rumor yang terdengar olehku adalah dia dijodohkan dari kecil oleh ibunya dengan anak dari sahabat ayahnya. Entah mengapa aku tidak terlalu peduli dengan itu semua, hak orang tua jika dia ingin menjodohkan anaknya, dan hak anak untuk menolak hal itu, bukan? Namun, karena aku tidak mendengar ada penolakan dari mulut kak Topaz, maka itu berarti dia menerimanya kan? Itu haknya juga, bukan?

Jadi, pada awalnya aku tidak banyak berharap, Kak Topaz akan menganggapku lebih dari mainan menyenangkan yang selalu membuatnya tertawa. Namun, ternyata Kak Topaz mulai menyayangiku. Dia bilang aku menggemaskan, dan melihat cerminan dirinya dalam diriku. Dia tidak bisa membiarkanku sendiri melakukan kecerobohan kecil karena tingkah polahku. Dia ingin menjagaku, menyayangiku, dan memilikiku.

Awalnya pun, aku berfikir bahwa ini hanya permainan. Aku memang menyukainya, tapi tidak ada niatan untuk merebutnya. Hanya sedikit pikiran nakal, sampai dimana aku bisa membuatnya jatuh hati padaku. Dimana pada saat yang bersamaan hatinya dihuni oleh orang lain. Mungkin, Tuhan marah padaku karena bermain-main. Dia membuatku harus bertanggung jawab lebih dari seharusnya, saat kak Topaz mengucapkan cintanya padaku.

Antara senang dan sedih. Karena aku tidak pernah dicintai sebelumnya. Karena kak Topaz adalah sosok lelaki yang aku idam-idamkan selama ini. Semua kriteria akhir pencarianku ada padanya. Namun, disaat yang sama pula, aku tahu kami tidak bisa bertahan selamanya. Dia tidak akan bisa memilikiku, karena dia sudah menentukan pilihannya, ya kan?

Sebelumnya, aku tidak pernah memikirkan ini. Yang kuingat hanyalah kebahagiaan yang aku lalui bersama kak Topaz. Dia yang menyanjungku. Dia yang menjagaku. Dia yang mengkhawatirkanku. Dia yang menyayangiku. Dan dia yang mencintaiku. Aku hanya menikmati semua waktu kebersamaan kami. Kebersamaan yang akan berujung perpisahan. Dan setiap kali pertanyaan itu muncul di pikiran kami, kami akan kompak menjawab, "udahlah, kita jalanin aja dulu." Yup, Selalu. Tapi, aku pun selalu mengingatkannya bahwa mencintaiku itu adalah kesalahan. Kesalahan yang manis, karena kami sama-sama menginginkannya. Dan bahwa kehadiranku adalah pengalih perhatian untuknya. A Distraction.

Namun, kali ini, tiada lagi perjalanan yang bisa kami lakukan. Tiada lagi kenangan yang bisa kami torehkan. Semuanya harus dihentikan. Sekarang. Harus.

"Kak, aku minta maaf karena sudah membuatmu menangis. Tapi tolong, sisakan satu saja senyum untukku. Please?" Aku merengkuh pipinya yang kini basah. Topaz-ku yang kusayang menangis karena aku. Shaffira yang jahat. Ya, aku jahat.

"Tidak adakah yang bisa kita lakukan. Aku masih belum bisa kehilangan kamu, Shaf." Isaknya.

"Ini pasti akan terjadi sekarang atau nanti. Aku sudah muak dengan kata 'nanti', kak. Menunggu 'nanti' akan menjadi 'sekarang' itu menyesakkan. Kita harus memutuskannya. Dan aku rasa 'nanti' itu sudah menjadi 'sekarang'." Kataku lembut.

Kak Topaz memandangku lekat-lekat. Aku masih bisa melihat buliran air itu jatuh dari matanya. Dan kemudian firasatku menjadi tidak nyaman. Aku tau tatapan mata itu. Tatapan matanya saat akan mengambil keputusan serius. Oh, tidak. Bukan ini perkembangan yang aku harapkan.

"Shaffira-ku sayang. Shaffira-ku, milikku. Harta berhargaku. Apa jadinya aku, jika harus melepasmu? Bagaimana aku bisa menemukan cinta yang lain jika cintaku telah seutuhnya kuberikan padamu?" Lirihnya.

"Tuhan adalah Maha Segalanya, kak. Bahkan, Beliau adalah Maha Pembolak-balik Hati. Jangan meragukanNya, kak. Sekalipun jangan." Aku mencoba tersenyum lagi.

"Aku tidak meragukanNya, Shaf. Aku meragukan diriku sendiri. Meragukan apakah aku masih punya hati untuk dibolak-balik olehNya." 

"Seperti biasa kak, bicaramu selalu manis. Ini yang membuatku sayang padamu. Aku percaya padamu, kak. Jadi kamu harus percaya pada dirimu sendiri. Ini hanyalah akhir dari sebuah hubungan, bukan akhir segalanya." Aku mencoba tegar.

"Bagiku, ini akhir segalanya, Shaf. Segala-galanya."

Kali ini bendungan itu pecah. Air yang sedari tadi kutahan mengalir tanpa hambatan membentuk sungai-sungai kecil yang terpatri jelas di pipi. Tuhan, mengapa takdirMu begitu membenciku? Apakah aku pernah bersalah padaMu? Kenapa Kamu menghukumnya untuk menghukumku? Kenapa, kami tidak boleh bersatu? Padahal Engkau menciptakan kami begitu melengkapi satu sama lain. Aku ingin menyalahkanMu, ingin membantah takdir-Mu. Namun, aku pun tahu aku tak akan mampu.
Melihatku menangis, Kak Topaz merengkuhku ke dalam pelukannya. Sama seperti biasanya, hangat dan nyaman. Dan seperti biasanya pula, aku masih ingin terus bersandar dalam kehangatan ini. Aku memeluknya lebih erat kali ini. Berharap semua takdir kehidupan ini berubah saat aku melepasnya. Tapi, aku tidak ingin terlepas dari pelukannya. Aku ingin terus bersamanya seperti ini.

"Aku akan membatalkan pertunanganku. Malam ini aku akan bicara ke Bunda, Shaf. Aku memilihmu. Harus kamu. Jika tidak, lebih baik dia harus bersiap melihatku sendiri sepanjang hidupku." Bisiknya.

Aku terisak. Dan menggeleng cepat dalam pelukannya. 

"Sudah terlambat, kak. Semuanya sudah terlambat." Aku mengangkat kepalaku dan memandangnya. Tersenyum. Karena mungkin ini kali terakhirku melihat mata cokelatnya yang indah. Ah, ralat. Bukan mungkin. Tapi pasti.

Kemudian, sebuah ringtone khas mengalun dari telepon genggam kak Topaz, aku tahu itu adalah nada SMS masuk. Aku kemudian melepaskan pelukannya, dan mundur selangkah kebelakang perlahan.

Kak Topaz ragu mengambil poselnya, dengan sebuah gerakan singkat dia membaca isi pesan itu. Sekilas aku bisa melihat apa isinya. Dan, kali ini aku tersenyum. Sudah saatnya, ya?

Pesan itu dari Rindra, teman baik kak Topaz yang juga teman baikku. 
"Paz, kmu dmna? Shfira kecelakaan, dtbrak lari sm mobil pas mw nybrang jln. Kndisinya kritis. Kmu hrs ksni skrg. RSUD Wahab Syahranie, UGD."
Wajah kak Topaz memucat. Dan aku kembali mengambil langkah mundur. Kali ini banyak langkah. Tersenyum kepada kepanikan di wajah kak Topaz. Bukan menertawakannya, hanya saja ini janjiku. Aku ingin mengakhiri semua ini dengan senyum. Jika bukan dia yang tesenyum, maka akulah yang harus tersenyum. 

"Sudah terlambat kak, terlambat." Bisikku lagi.

Kak Topaz hanya terdiam ganjil melihatku mundur semakin jauh. Sepertinya semua ini terlalu banyak untuknya yang selalu melihat dari sisi realistis. Dia tidak akan bisa mengerti bagaimana aku bisa berada di dua tempat sekaligus. Cih, kujelaskan pun dia tidak akan mengerti bagaimana aku memohon kepada Tuhan untuk menemuinya. Bagaimana aku mengemis dan memelas untuk menepati janji kami. Bagaimana aku mengorbankan sedikit harapan hidup yang ku punya untuk keajaiban kecil ini. Biarlah dia tetap berada dalam ketidak-mengertiannya. Yang penting janji ini terpenuhi.

"Shafirra, ini lelucon kan? Aku memelukmu barusan, dan kamu... kamu membalas pelukanku kan?" Lirihnya. Tangannya terjulur berusaha menggapaiku dalam kebingungannya.

Aku masih terus melangkah mundur. Ya, waktu yang disediakan Tuhan sudah habis. Aku harus pergi.

"Kak, aku mencintaimu." Kataku. 

Air dari mata indah itu kembali mengalir. Dikepalnya jari tangannya yang tadi terjulur ke arahku. Diletakkannya di dadanya. Dia tertunduk, pilu. Samar-samar aku mendengar dia berbisik. "Aku juga. Sangat."

"Kak... lihat aku."

Kak Topaz mengangkat kepalanya. Aku menunjukkan jari ke bibirku yang dari tadi tidak berhenti tersenyum untuknya. Aku sudah bertekad, bahwa wajah terakhirku yang dia lihat bukan yang berlumuran darah. Tapi, wajah bahagiaku. Karena kak Topaz pernah berkata, aku paling cantik saat sedang bahagia. Dan kini aku berusaha bahagia.

Kak Topaz menggeleng. Kepalan tangannya semakin kuat, pertanda dia menahan kesedihannya semakin dalam.

"Kak, please."

Pandanganku semakin tidak jelas. Tapi, setidaknya masih cukup jelas saat kulihat pelan-pelan ujung bibirnya tertarik keatas, dan membentuk lengkungan indah. Ahhh,,, Akhirnya, janji itu terpenuhi. Kami berpisah dalam senyum. Kenangan akan perjalanan ini sekarang absolut. Dia pasti bisa membenahi hidupnya. Dan dia pasti bisa terus berjalan hingga saatnya kami akan bertemu kembali. 

Sesaat, aku merasa gamang. Meninggalkan dan ditinggalkan, mana yang paling menyakitkan? Jawabannya adalah keduanya. Namun, setidaknya aku bersyukur saat harus meninggalkan masih bisa menepati janji dan mengungkapkan isi hatiku. Walaupun, kami tidak sempat mengucapkan "selamat tinggal" dan "jaga dirimu baik-baik". Tapi, bukankah kami akan bertemu lagi nanti?

Dalam sesaat perjalananku menuju kegelapan dan tanda tanya besar, aku masih bisa mengenang kebahagiaan kami. Ya, aku pernah menjadi milikmu, kak. Namun sekarang, Tuhan-lah yang memilikiku. Jadi, sampai bertemu kembali, Topaz-ku.

12:12 AM, 060913 
Frisca D. Putri,
*Saat jari tidak dapat dihentikan untuk mengetik, maka saat itu adalah saat terbaik untuk membiarkannya menari di atas tuts dengan bebas. Dan kali ini alienstartrek pasti senang ;3*