Laman

Storytelling : Finding a New Light,, Finding a New Sun,, Finding My Midnight Sun (Part I)

Prolog : Hanya sebuah cerita biasa. Tidak spesial apalagi istimewa. Satu dari jutaan cerita klasik tentang perasaan, harapan dan egoisme. Yup, tentang ke-manusiawi-an seorang manusia. Dan, tidak dapat menjanjikan akhir yang indah, sebab alur ceritanya akan terus mengalir melewati waktu. Namun, tidak ada salahnya jika ingin membacanya, sebagai pengantar tidur, sambil berharap terbawa dalam mimpi dan mendapatkan ending yang terbaik untuk mereka. :)

Cerita dimulai dari sebuah keterpurukan yang dalam. Ya, aku terpuruk dalam kesedihan yang kuat. Akibat dari sebuah kesadaran tentang hidupku yang ego, tentang kebodohan diriku sendiri, tentang aku yang pada akhirnya sadar akan kesalahanku. Aku telah salah memilih, dan salah dalam membuat komitmen terhadap diri sendiri.

Ibaratnya, aku adalah sosok Bumi, yang ditinggalkan Matahari yang terlanjur kucintai. Matahari yang seakan-akan menjadi pusat cahayaku satu-satunya. Matahari yang memberikanku kehangatan dan kenyamanannya. Matahari, yang pada akhirnya berhianat. 

Yup, menjadi sebuah kesadaran akan kebodohan besarku. Membuang waktu begitu lama dengan Matahari yang salah. Yang aku sesalkan bukan dia yang telah pergi meninggalkanku, namun yang kusesali adalah kenyataan bahwa diriku telah menutup mata dan membiarkan diri dibutakan dengan pesona-pesonanya. Sehingga lupa melihat ke bagian belakang, sisi yang tidak aku perhatikan. Kenyataan bahwa diriku memang sungguh bodoh dengan jangka waktu yang lama. Itu yang membuatku terpuruk.

Dan kemudian kata-kata Cinta menjadi tak bermakna. Aku lupa akan artinya, aku kembali pada titik mempertanyakan Cinta itu apa? Yang akhirnya membawaku pada kesimpulan, Cinta itu hanya ada dalam dongeng-dongeng yang berakhir bahagia. Bukan di kehidupan nyata seperti ini. Cinta hanya sekedar permainan, dan Cinta itu sebenarnya tidak pernah ada.

Picik. Dan terus berenang dalam kebodohan. Namun, itu yang menguatkan aku. Membantuku untuk terus maju, untuk move on dari tempatku terjatuh. Membantuku menjadi Bumi yang tegar menantang kegelapan hati. Menjadi Bumi yang bisa berdiri sendiri, memancarkan sinar mandiri sehingga tidak membutuhkan Matahari-matahari palsu lainnya. Ya, aku berhasil keluar dari dalam jurang keterpurukan itu, berhasil menjadi Bumi yang tangguh. Tanpa meninggalkan noda Cinta di hatiku, Cinta? ah iya,, bukannya dari awal memang tidak ada cinta??

Namun, sebuah cahaya usil dari sesosok Matahari yang sebelumnya tidak ku sadari, kembali membuatku merasa nyaman. Entah kenapa, kehangatannya mampu mencairkan dan meluluhkan hatiku yang kubekukan paksa. Aku kemudian, sedikit demi sedikit mulai mencari, dari mana sinar usil itu? Sampai mana dia bisa membuatku nyaman? Sehangat apa dia, hingga aku mulai mempertanyakan arti Cinta yang sebelumnya sudah aku simpulkan.

Matahari tersebut, benar-benar tau bagaimana membuatku nyaman. Yah,, mungkin bukan hanya aku yang merasa nyaman, beberapa Bumi-bumi lain sepertinya mengidamkan hal yang sama sepertiku. Sinarnya lucu, penuh kehangatan yang sangat berbeda dengan Matahariku sebelumnya. Kemudian akhirnya aku sadar, bahwa aku jatuh hati padanya, jauh sebelum aku menyadarinya.

Matahari baik hati itulah yang kemudian menyinari hari-hariku. Menyinari sudut hidupku yang dulunya ku tinggalkan, menyinari dengan warna-warni yang berbeda di setiap harinya. Jujur, awalnya sama sekali tidak ada niatan bagiku untuk memilikinya, aku cukup melihatnya dari jauh sebab, aku merasa aku tidak pantas untuk memonopoli cahayanya. Aku tahu banyak Bumi-bumi lain yang juga menikmati kehangatan sinarnya, sehingga aku sama sekali tidak mau berharap apapun. Karena aku tahu, jatuh dari harapan yang ku buat sendiri itu akan sakit. Jauh lebih sakit dibanding karena diberi harapan orang lain.

Dan, menjadi kebahagiaan dan syukur yang luar biasa, saat aku tahu dia memilihku. Saat aku tau dia ingin menyinariku, hanya aku. Namun, tetap, dengan kewaspadaan yang sama, aku membuat keputusan untuk menjaga jarak. Aku mau memulai kembali menikmati hari-hari yang cerah dengan sinar dari Matahari Baru ini, namun, aku akan tetap waspada untuk tidak jatuh terlalu dalam, alasannya, tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.

Hari demi hari, warna-warni di duniaku bertambah. Walau sudah mencoba menjaga hati ini agar tidak jatuh, namun tetap saja, dia bisa membuatnya bergetar. Dia benar benar memberikan sinar yang pas dengan porsi yang kuinginkan. Dia benar-benar menjadi seseorang yang benar-benar kuinginkan untuk mendampingku dari awal. Menjalani hari-hari bersamanya, tidak pernah mengecewakan. Dia tau bagaimana membuatku tersenyum,, bagaimana memahami kekuranganku, bagaimana menyadarkan kesalahanku, dan dia menerimanya. For God Sake, dia BISA mengarahkanku. Memimpinku.

Hanya saja, satu kesalahan fatal, yang lagi-lagi tidak kusadari, membuat semuanya berubah. Perasaan tidak aman mulai mencekamku. Tidak aman karena sepertinya hati ini telah jatuh terlalu jauh, lebih jauh daripada yang bisa ku toleransi. Akhirnya, cari aman, aku seolah ingin mundur. Satu kalimat sederhana dariku, yang bagiku hanya hal sepele, namun ternyata membuatnya memiliki keraguan yang besar terhadapku. Satu kalimat "Ini semua belum terlambat, jika kamu ingin mencari Bumi yang baru, Bumi yang benar-benar sesuai denganmu, pantas untukmu. Sebelum kita melangkah lebih jauh, dan aku terlanjur ga bisa ngelepasin kamu."

Bodoh. Ternyata aku masih belum terlepas dari kebodohanku yang dulu. Dan bahkan lebih bodoh lagi. Aku sama sekali tidak menyadari keraguan hatinya. Benar, sekedar kata bodoh tidak cukup mewakili kebodohanku ini.

Dan kemudian, suatu saat tak lama setelahnya, aku mengetahui bahwa ada Bumi yang juga melihat kepadanya. Bumi yang merasakan kehangatan sinarnya. Dan meski belum tentu ingin memiliki, namun aku merasa terancam. Ya. Aku pengecut. Saat aku tau Bumi ini lebih segala-galanya dariku, aku takut. Aku takut pada akhirnya Matahariku juga akan melepaskanku seperti Matahari yang dulu. Aku sama sekali tidak punya kepercayaan diri untuk bersaing darinya, karena dia jauh lebih menarik, lebih pantas untuknya.

Kenyataan ini sangat menyakitkan hatiku, menyakitkan sebab sepertinya semua terlalu singkat. Aku masih menginginkan sinarnya, namun, dengan komitmen kita diawal, aku sadar sepenuhnya aku harus mundur. Ini demi kebaikannya, Matahariku, dan juga kebaikanku. Aku berfikir, ah,, sudah saatnya, bukannya aku sudah berjanji untuk melepasnya saat dia menemukan yang lebih baik dariku? Menetapkan hati, walau lagi-lagi teriris, dan terluka, namun demi sebuah konsistenitas perkataanku, aku berlagak jadi orang suci. Tepatnya mencoba menjadi orang suci, untuk mundur dari pertempuran, dari kisah ini, dan membiarkannya bahagia karena sudah menemukan orangnya. Bumi yang benar-benar pantas untuknya. Dengan tetes kecil air di sudut mata, menghela nafas untuk menguatkan hati, aku berkata "Terimakasih untuk segalanya, tapi, Aku menyerah. Aku mundur."


---To Be Continued---


*Akan segera aku sambung, sekarang harus pergi ke Basecamp dlu,, ada tamu yang harus disambut,, Backpackers dari Banjarmasin,, :) janji, lanjutannya bakal dilanjutin besok. (atau besoknya, atau besoknya lagi,, atau besok besoknya lagi,, hehe,, atau kalau sempat deh :p) :D*

NB :
[Storytelling : kb. 1 bercerita, mendongeng. 2 membohong. 3 Cara yang dilakukan untuk menyampaikan suatu cerita kepada audience, baik dalam bentuk kata-kata, gambar, foto, maupun suara.]