Laman

R E A L I Z E D

Terbangun dari rutinitas mati harianku. Aku tau pasti dikejauhan terdengar suara berisik orang-orang yang seakan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Orang-orang yang sama sepertiku. Yang selalu bingung saat ditanyai apakah arti hidup. Yang bahkan terkadang menanyakan arti "Kebahagiaan", karena sepertinya mereka telah melupakan kosakata itu dalam benak mereka. Sama sepertiku.

Tersenyum pada sebuah tawa manis yang mengawali perjalanan tak berarti ini. Dan, ya. Jika kau ingin tahu, tawa manis itu adalah aku. Aku yang selalu berusaha membangkitkan gairah, semangat, untuk tetap percaya bahwa mungkin, hari ini bisa kulalui dengan lebih baik. Walaupun hanya sepermilyar dibanding hari kemarin. Benar, tawa manis itu adalah aku. Aku yang sedang menertawai kebodohan diriku. Aku yang kembali membesarkan hatiku.

Ya. Rutinitas adalah musuh besarku.

Kebosanan yang memuncak. Kejenuhan yang merasuk. Kata-kata yang tak ingin kudengar. Cacian makian yang sudah bingung akan kutaruh di sudut hati yang mana karena ruang hatiku sudah penuh, tak mampu lagi menahan noda hitam di dalamnya. Kegelisahan yang tak terjawab. Keinginan yang tidak pernah terwujud. Dan kesalahan yang tidak pernah benar yang selalu berulang.

Jenuh. Bosan. Lelah. Sungguh, aku benci rutinitas.

Tapi sudahlah. Tak ada yang bisa kulakukan. Mengeluh seribu kalipun, tidak akan menghilangkan rasa sesak di hati ini. Mungkin, mati lebih baik. Ya, mungkin. Karena, itu satu-satunya kemungkinan yang pasti. Karena, selama aku hidup, aku tidak bisa merasakan mati. Mungkin, jauh lebih baik mati. Ya, mungkin. Tapi, mungkin juga tidak.

Aku kembali fokus pada tawa manis itu. Baiklah, siap menghadapi perang batin hari ini, lagi, pikirku.

Kemudian, aku tak menyangka, betapa sebenarnya jawaban dari segala kegelisahanku ini begitu mudah. Begitu mudahnya, hingga aku tidak pernah sedikitpun berani memikirkannya. Betapa, seluruh penderitaanku dalam kekosongan makna hidup ini bisa luluh lantak dalam sekejap. Dalam sepersekian detik penuh kesadaran.

Semua karena, pagi itu, kamu tersenyum padaku. Dan menceritakan betapa bahagianya hidupmu hanya dengan menatapku dari kejauhan. Ya, kamu yang selalu kuabaikan. Kuabaikan karena ketakutanku akan sesuatu yang tidak pasti. Ketidak pastian yang tidak ingin ku mengerti. Dan, pada takdirnya aku dipaksa mengerti. Bahwa kamu adalah jawaban dari semua pertanyaan putus asaku akan kebahagiaan terlahir di dunia. Kamu mungkin alasanku hidup. Ah, bukan mungkin, tapi pasti.

...

Kembali terbangun dari rutinitas mati harianku. Aku tau pasti dikejauhan terdengar suara berisik orang-orang yang seakan tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Orang-orang yang tidak sama sepertiku. Yang selalu bingung saat ditanyai apakah arti hidup ini. Dan aku sedang meyakinkan diri, bahwa kebahagian hari ini harus kembali dimulai. Ku inginkan, ataupun tidak.

Kemudian, kembali tersenyum pada sebuah tawa manis yang mengawali perjalanan tak berarti ini. Dan, ya. Jika kau ingin tahu, tawa manis itu adalah kamu. Kali ini, kamu lah alasanku untuk membuka mata dan kembali menjalani hari. Kamu, yang membuatku kembali mempertanyakan arti ketidak-bahagiaan. Karena, entah kenapa, saat bersamamu, aku bisa mendefinisikan sejuta arti bahagia, namun tidak dengan sinonimnya. Sepertinya aku telah kehilangan sebuah kosakata bernama “Kesedihan”. Dan semua itu karena kamu.

Ya, aku TERSADAR sekarang. Bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dalam hidupku adalah kamu. Dan akan selalu menjadi KAMU.


(Narasi untuk KAMU, sahabat. REALIZE from CuacaMendung)
*karya mereka yang luar biasa --> http://soundcloud.com/cuacamendung *

~F